Rabu, 26 Agustus 2015

Metamorfosa

Bagi diri setiap orang, hidup adalah putaran nasib.
Bagi kehidupan yang luas, hidup adalah putaran sejarah.
@noffret


Catatan ini saya tulis sebagai respons atas banyaknya “kegalauan” teman-teman yang berencana drop out dari kampus setelah membaca Catatan Mahasiswa Drop Out. Meski sudah diposting cukup lama, catatan itu masih mendatangkan berbagai respons, yang isinya kira-kira, “Saya ingin drop out dari kampus, tapi masih bingung,” atau, “Saya mau drop out, tapi apa yang harus saya katakan pada orangtua?”, bahkan ada yang menyatakan, “Semula, saya masih ragu untuk drop out, tapi setelah membaca tulisanmu, saya jadi mantap untuk drop out dari kampus.”

Pertama, saya ingin menegaskan bahwa saya menulis Catatan Mahasiswa Drop Out tidak untuk memprovokasi siapa pun agar drop out dari kampus. Seperti pada catatan-catatan lain di blog ini, catatan itu pun sebenarnya bentuk kejujuran saya, bahwa saya bukan lulusan universitas atau perguruan tinggi mana pun.

Ketika memposting catatan itu, yang ada dalam pikiran saya kira-kira seperti ini, “Kalau catatan itu dibaca orang yang kebetulan tidak bisa kuliah karena kemiskinan, misalnya, semoga mereka termotivasi. Bahwa untuk dapat membangun kehidupan tidak harus melalui kuliah. Bahwa untuk meraih cita-cita tidak harus punya titel atau gelar.”

Jadi, catatan itu sebenarnya lebih ditujukan kepada orang-orang yang kebetulan tidak bisa kuliah karena berbagai alasan dan latar belakang, bukan ditujukan untuk orang-orang yang sudah atau sedang berkuliah. Kalau kalian sedang kuliah di mana pun, sebaiknya teruskanlah. Apalagi jika kalian kuliah dengan biaya orangtua. Tentunya orangtua ingin melihat kalian lulus, wisuda, dan mendapatkan gelar. Kalau pun kemudian kalian menganggur setelah lulus kuliah, well... setidaknya kalian telah cukup membahagiakan orangtua.

Kedua, saya juga ingin menegaskan, bahwa saya drop out bukan karena apa pun, melainkan karena keputusan pribadi. Dan keputusan itu juga bukan keputusan spontan, melainkan keputusan yang telah saya pikir matang. Ketika drop out, saya telah menyelesaikan seluruh teori mata kuliah—tinggal mengikuti KKN dan menggarap skripsi. Jika saya mau ikut KKN dan bikin skripsi, maka saya pun lulus dan wisuda. Artinya, saya drop out bukan karena malas kuliah.

Ketiga, saya kuliah dengan biaya sendiri, artinya bukan dibiayai orangtua. Ketika memutuskan drop out dari kampus, saya tidak terlalu punya beban moral, karena tidak terlalu mengecewakan orangtua. Lebih dari itu, saya kuliah di kampus saya dulu bukan karena apa pun, melainkan semata-mata karena ingin menemui perempuan yang membuat saya jatuh cinta. Karena dia kuliah di sana, saya pun kuliah di sana. (Cerita selengkapnya, silakan baca di sini).

Jadi, Kawan-kawan, kalau kalian masih atau sedang kuliah, dan tidak atau belum punya rencana jelas serta matang menyangkut hal-hal yang akan dilakukan, sebaiknya teruskanlah kuliah. Memang drop out adalah soal pilihan, sebagaimana kuliah juga soal pilihan. Tetapi jangan lupa, setiap pilihan mengandung konsekuensi. Jika kita memilih drop out, maka beban moral kita jauh lebih besar daripada lulus kuliah.

Umpamakan saja kalian lulus kuliah, dan menganggur. Setidaknya masalah kalian cuma satu—masih menganggur. Untuk hal itu, blak-blakan saja, kalian tidak terlalu malu, karena kenyataannya banyak lulusan sarjana yang menganggur. Asal mau kerja apa saja, yang penting halal, mendapat kerja pasti tidak sesulit yang dibayangkan.

Tetapi, jika kalian memilih drop out dari kampus, dan kemudian menganggur, kalian menghadapi dua masalah. Pertama, kalian menganggur. Kedua, kalian akan menghadapi omelan orangtua yang menyesali keputusan drop out. Belum lagi kadang ada mulut-mulut usil yang nyinyir, “Makan tuh, drop out! Pakai sok-sokan drop out segala! Bill Gates kok ditiru!”

Jadi, sekali lagi, pikirkan seribu kali sebelum kalian memutuskan untuk drop out, khususnya jika kalian kuliah dengan biaya orangtua. Fakta bahwa kalian kuliah dibiayai orangtua, dengan jelas menunjukkan kalian belum bisa mandiri. Kalau kuliah saja belum bisa mandiri, apalagi menjalani kehidupan di luar kampus?

Memang, banyak orang sukses bahkan hebat, padahal drop out dari kampus. Tetapi, ingatlah fakta penting ini: Mereka drop out setelah memiliki rencana dan arah jelas yang akan dituju. Artinya, mereka drop out bukan untuk bersenang-senang karena terbebas dari aktivitas kuliah. Ketika mereka keluar dari kampus, perjuangan dan kerja keras yang dihadapi jauh lebih berat daripada aktivitas belajar di kampus. Selain itu, yang juga patut diingat, jauh lebih banyak orang sukses yang lulus kuliah daripada yang sukses karena drop out!

Untuk hal ini, saya bisa menceritakan kisah adik saya sendiri. Saya punya adik, laki-laki. Ketika lulus SMA, dia tidak bisa kuliah atau melanjutkan pendidikan, karena tidak ada biaya. Daripada menganggur, dia pun lalu mencari kerja. Sendirian, dia membawa ijazah SMA-nya, kemudian pergi keluar masuk toko. Dia memasuki setiap toko yang dilewatinya, dan bertanya pada si pemilik toko, “Apakah di sini membutuhkan pekerja baru?”

Cukup lama dia melakukan itu, dan entah berapa banyak toko yang telah ia masuki, yang rata-rata menjawab, “Tidak.”

Sampai kemudian dia memasuki sebuah toko tekstil, dan menemui pemiliknya. Seperti pada toko-toko lain, dia bertanya, “Apakah di sini membutuhkan pekerja baru?”

Si pemilik toko mengangguk, dan menyatakan tokonya sedang butuh pekerja baru. Adik saya mengangsurkan ijazahnya, tapi dijawab, “Tidak perlu pakai ijazah. Kamu bisa mulai bekerja besok, jadi pelayan di sini.”

Besoknya, adik saya bekerja sebagai pelayan di toko tekstil itu.

Pekerjaan menjadi pelayan toko ditekuni adik saya sampai sekitar satu tahun. Sering, saya kebetulan lewat di depan tokonya, dan menengok, dan menyaksikan adik saya sedang melayani pembeli yang datang. Atau kebetulan toko sedang sepi, dan dia tampak duduk-duduk di depan toko bersama teman-temannya sesama pelayan. Dia berangkat kerja jam sembilan pagi, dan pulang sekitar jam delapan atau sembilan malam.

Selama menyaksikan hal itu, saya membatin, “Ada baiknya dia menjalani hal semacam itu, agar tahu arti hidup.”

Yang ada dalam bayangan saya, waktu itu, sederhana. Kapan pun waktunya, adik saya akan menyadari bahwa hidup ini berat, bahwa mencari penghidupan itu sulit. Setelah dia sampai pada kesimpulan itu, dia akan mulai berpikir dan memaksa pikirannya untuk bekerja. Jika pikirannya telah bekerja, dia akan menemukan jalan untuk bermetamorfosa—berubah dari masa lalu menuju masa depan, berubah dari kekalahan menuju kemenangan, berubah dari kegagalan menuju kesuksesan.

Saya berpikir dalam kerangka seperti itu, karena saya juga mengalami hal semacam itu. Sebagaimana dulu saya berhasil melakukan metamorfosa setelah terbentur pada kerasnya hidup dan pahitnya kegagalan, saya pun berharap adik saya menemukan jalan yang sama.

Tapi rupanya adik saya memilih jalan berbeda.

Suatu hari, adik saya bercerita bahwa dia ingin kuliah. Ketika pertama kali mendengar niatnya kuliah, saya terkejut. Lalu tertawa. Kemudian, menertawakannya. Saya masih ingat yang saya katakan waktu itu, “Kamu mau kuliah? Wong aku yang kuliah saja drop out, kamu malah ingin kuliah. Percayalah, kuliah cuma buang-buang waktu! Daripada menghabiskan banyak waktu untuk kuliah, lebih baik manfaatkan waktu untuk bekerja!”

Tapi adik saya bertekad ingin kuliah, dan tidak mau mendengarkan ocehan saya, tidak mau percaya yang saya katakan. (Kelak, saya sangat bersyukur bahwa adik saya menentang ucapan saya, dan tetap berpendirian teguh pada niatnya).

Waktu itu, saya sempat menanyakan bagaimana dia akan kuliah? Dari mana biayanya? Adik saya menceritakan, dia mendengar ada kampus yang menawari beasiswa untuk calon mahasiswa yang memiliki nilai tinggi. (Saat lulus SMA, adik saya memang mendapat nilai tinggi di sekolahnya). Jadi, dia ingin mencoba mendaftar ke kampus tersebut, dengan harapan mendapat beasiswa.

Saya kembali bertanya, bagaimana dengan biaya semesteran? Adik saya menjelaskan, bahwa kampus tersebut juga memberikan beasiswa setiap semester bagi mahasiswa yang mampu mempertahankan nilai tinggi. “Aku akan belajar dengan giat, agar selalu dapat beasiswa.”

Jujur saja, ketika mendengar tekadnya, saya merasa skeptis, dan rasanya seperti mendengar utopia. Tapi adik saya telah bertekad. Dia menemui majikannya di toko, dan memberitahukan niatnya untuk kuliah. Karena dia akan kuliah sore, dia pun menyatakan tidak bisa bekerja sampai malam seperti biasa. Majikannya tidak mempersoalkan. Jadi, sejak itu, adik saya bekerja menjadi pelayan toko dari pagi sampai sore. Lalu pulang, kemudian berangkat kuliah ke kampus sampai malam.

Hal itu dijalaninya semester demi semester. Dan, Tuhan menjadi saksi, selama semester demi semester itu adik saya terus mendapat beasiswa, hingga tidak pernah membayar biaya semesteran serupiah pun! Jika kalian takjub, saya ingin mengatakan... bahkan saya yang kakaknya pun takjub, karena tidak menyangka dia akan membuktikan ucapannya!

Dia benar-benar bekerja dan belajar dengan baik, hingga selalu berhasil mendapat nilai tinggi, dan terus mendapat beasiswa dari kampus. Dan dia berhasil lulus, hingga wisuda. Pada hari wisuda, saya datang ke kampusnya bersama nyokap, dan mendapati adik saya mengenakan jubah serta toga, dan diberitahu bahwa dia menjadi salah satu lulusan mahasiswa dengan nilai terbaik.

Apa yang terjadi setelah itu? Tidak ada apa-apa. Adik saya masih menjadi pelayan toko, seperti biasa. Tapi sekarang dia telah memiliki ijazah perguruan tinggi, dengan gelar pada namanya. Menggunakan ijazahnya, dia berencana mencari pekerjaan yang lebih baik. Keinginannya berhasil—lamarannya diterima sebuah perusahaan barang-barang toiletris, lalu dia bekerja di sana. Dia mendapat pekerjaan lebih baik, dengan penghasilan lebih baik. Tapi cerita ini belum selesai.

Suatu hari, adik saya dihubungi salah satu dosennya di kampus. Sang dosen memberitahu, “Ada perusahaan di Tangerang yang datang ke sini (ke kampus). Mereka sedang mencari pekerja baru, tapi dengan syarat memiliki kualitas nilai terbaik. Kami merekomendasikan namamu. Kalau kamu bersedia, kami bisa mempertemukanmu dengan mereka.”

Adik saya bersedia. Dan selanjutnya adalah sejarah.

Karena kualifikasi yang dimilikinya dianggap cocok seperti yang diinginkan, adik saya pun berangkat ke Tangerang, dan bekerja di sana... sampai sekarang. Dengan pekerjaan yang jauh lebih baik, dengan penghidupan yang jauh lebih baik, juga dengan penghasilan yang ribuan kali lipat lebih baik dari yang pernah didapatnya. Saat ini, dia bahkan sedang kuliah lagi, dengan biaya perusahaan.

Sekarang, setiap kali melihat adik saya—kalau kebetulan dia pulang—saya sering membayangkan, apa jadinya kalau dulu dia mengikuti kata saya? Apa jadinya kalau dulu dia percaya pada saya untuk tidak kuliah? Apa jadinya kalau dia mengikuti jejak saya? Meski dulu dia menentang ucapan saya, tetapi saya bersyukur, karena penentangannya membuahkan hasil yang lebih baik, kehidupan yang lebih baik.

Kini, saat menulis catatan ini, saya menyadari. Bahwa setiap orang memiliki jalan dan pilihan berbeda untuk bermetamorfosa. Jalan hidup yang saya lewati mungkin tidak sama dengan jalan hidup orang lain. Pilihan terbaik yang saya ambil belum tentu tepat bagi orang lain. Keputusan drop out yang saya pilih juga belum tentu menghasilkan kebaikan yang sama bagi orang lain. Karena bahkan adik kandung saya sendiri pun memiliki jalan dan pilihan berbeda. Masing-masing orang memiliki cara sendiri untuk melakukan metamorfosa.

Kesimpulan Bocah

Yang menjadikan Bumi masih berputar, dan Matahari belum terbakar, karena di dunia ini masih ada mbakyu.

Mulutmu Celengmu

Aku tidak tahu seperti apa isi pikiran dan hatimu. Tapi mungkin aku bisa tahu dari ucapan, kata-kata, dan sikap yang kautunjukkan kepadaku.
—Twitter, 12 Desember 2014

Tebak-tebakan lama, “Pilih kedondong atau durian?” Whatever. Yang paling apes adalah durian isi kedondong. Atau kedondong berkulit durian.
—Twitter, 12 Desember 2014

Tidak ada orang waras yang tertarik pada sampah busuk, kotor, dan menjijikkan... meski itu keluar dari mulutmu.
—Twitter, 13 Desember 2014

Orang lebih mudah mengingat hal-hal buruk, pahit, dan menyakitkan, daripada sebaliknya. Kupikir, itu pelajaran penting untuk jadi manusia.
—Twitter, 13 Desember 2014

Mula-mula, Neraka akan diisi orang-orang yang bermasalah dengan mulutnya. Itu benar. Semoga saja benar. Bahkan jika ternyata Neraka tak ada.
—Twitter, 13 Desember 2014

Manusia disebut manusia bukan karena apa pun. Tapi karena sikap, ucapan, dan perbuatannya. Celeng tidak memahami pengetahuan penting itu.
—Twitter, 13 Desember 2014

“Ucapanku memang kasar, sikapku memang menjengkelkan, tapi hatiku sangat baik.” Oh, well, sayangnya orang tidak tahu seperti apa isi hatimu.
—Twitter, 13 Desember 2014

Saat kenal seseorang, aku tidak pernah mengorek-ngorek hatinya. Yang kuperhatikan adalah ucapan dan sikapnya, untuk memastikan dia manusia.
—Twitter, 13 Desember 2014


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.
 
Kamis, 20 Agustus 2015

Butir-butir Waktu

Pada akhirnya, hidup dan hiruk-pikuk dunia akan membawa
kita pada ujung sunyi untuk menertawakannya.
@noffret


Bertelepon atau bermain ponsel sambil mengemudi mungkin sudah populer, tapi bagaimana dengan memotong kuku sambil mengemudi? Jika menggunakan ponsel sambil mengemudi sudah dianggap berbahaya, memotong kuku sambil mengemudi tentu jauh lebih berbahaya. Tetapi hal itulah yang dilakukan seorang sopir bus di Singapura.

Pada 26 Juli 2014, SG Share mengunggah sebuah video ke akun Facebook mereka, yang memperlihatkan seorang sopir bus mengemudi sambil memotong kuku. Dalam video itu tampak si sopir menyandarkan tangan kirinya ke kemudi, sementara tangan kanannya memegang gunting kuku. Dia juga beberapa kali mengangkat tangan kirinya dari kemudi, untuk melihat kuku tangannya setelah dipotong.

Pengelola SG Share menyatakan, video itu diambil sehari sebelum diunggah, dan adegan sopir memotong kuku sambil mengemudi itu direkam di sebuah bus yang keluar dari Bandara Changi ke kawasan pinggiran utara Singapura.

Atas munculnya video tersebut, SMRT—operator bus di Singapura—segera mengambil langkah tegas. Mereka sepakat dengan orang-orang lain yang menyaksikan video tersebut, bahwa yang dilakukan pengemudi bus sangat membahayakan penumpang. Juru bicara SMRT menyatakan, “Kami sudah menyelidiki insiden itu, dan sudah mengambil langkah yang diperlukan terhadap pengemudi bus. Dia sudah dipecat.”

Kepada reporter AFP, juru bicara SMRT juga menambahkan, “Kami ingin menekankan bahwa keamanan penumpang adalah prioritas kami, dan para pengemudi sudah diingatkan serta didorong untuk menerapkan cara mengemudi yang aman di jalan raya.”

Meski begitu, manajemen SMRT menolak untuk menyebutkan identitas si pengemudi. Karenanya, saat menulis catatan ini, saya tidak tahu siapa sopir bus yang kini telah dipecat karena memotong kuku sambil mengemudi. Saya juga tidak tahu bagaimana nasibnya sekarang setelah dipecat dari pekerjaannya. Di atas semua itu, saya tidak tahu mengapa dia sampai memotong kuku ketika sedang mengemudi bus.

Mungkin bukan cuma saya. Orang-orang lain di dunia yang kebetulan menyaksikan video di atas juga tidak tahu mengapa seorang sopir bus sampai memotong kuku sambil mengemudi bus. Bahkan, mungkin, pihak manajemen SMRT yang memecat si sopir juga tidak sempat menanyakan pertanyaan penting itu. Mereka hanya tahu bahwa sopirnya telah mengemudi dengan cara berbahaya—memotong kuku sambil menyetir bus—sehingga membahayakan penumpang, dan mereka kemudian memecatnya.

Tapi apakah mereka bertanya, “Mengapa?”

Saya benar-benar gelisah memikirkan hal itu. Seorang sopir bus yang memotong kuku sambil mengemudi tentu berbahaya, bagi diri sendiri, bagi penumpang bus, juga bagi orang lain di jalan raya. Sopir bus mana pun tentu menyadari kenyataan itu. Tetapi, mengapa dia sampai memotong kuku sambil mengemudi?

Akar kegelisahan saya terhadap hal ini, karena insiden di Singapura itu mengingatkan saya pada sebuah kisah di masa kanak-kanak. Dulu, saya memiliki tetangga yang biasa berjualan wedang ronde di terminal bus. Dia seorang lelaki yang telah berkeluarga, usianya sedikit lebih muda dari ayah saya, dan terkenal sebagai sosok yang jujur bahkan lugu.

Setiap malam, sekitar pukul 21:00, tetangga saya akan mendorong gerobak wedang ronde ke terminal, lalu berjualan di sana sampai subuh. Seusai subuh, dia akan kembali mendorong gerobaknya untuk pulang, lalu tidur. Siang hari, seusai istirahat, dia pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan wedang ronde, lalu mulai membuat dan menyiapkan wedang ronde yang nanti malam akan kembali dijajakan.

Dia rutin melakukan hal itu setiap hari. Jadi, inilah jadwal atau rutinitas hariannya: Siang hari, seusai istirahat, dia pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan. Lalu mulai menyiapkan bahan-bahan itu untuk membuat wedang ronde. Sambil menunggu malam, dia mengurusi dan mengerjakan hal-hal sehubungan rumah tangga, dari membantu istri di rumah sampai bermain dengan anak-anak.

Malam hari, pukul 21:00, dia telah menyiapkan wedang ronde di gerobaknya, lalu melangkah perlahan-lahan menuju terminal bus, dan berada di sana sampai subuh. Seusai subuh, dia pulang bersama gerobaknya, dengan badan letih dan mata mengantuk setelah semalaman berjualan. Sesampai rumah, dia pun tidur, beristirahat, agar tenaganya kembali pulih, agar bisa kembali bekerja.

Sekali lagi, dia telah melakukan rutinitas itu setiap hari, selama bertahun-tahun. Sebelum saya lahir, dia telah berjualan wedang ronde. Saat saya tumbuh menjadi anak-anak, dia masih berjualan wedang ronde. Saat saya mulai dewasa, dia tetap berjualan wedang ronde. Jualan yang sama, di tempat yang sama, rutinitas yang sama.

Nah, ada satu cerita menyangkut penjual wedang ronde itu, yang sampai hari ini tidak bisa saya lupakan.

Saya masih SD waktu itu, dan sedang bermain-main dengan ayah saya di depan rumah, suatu sore saat ayah pulang kerja. Ayah sedang mengajari saya membuat origami, dan kami membuat burung dengan selembar kertas. Kebetulan, tetangga kami yang jualan wedang ronde juga sedang bermain-main bersama anaknya. Melihat kami di depan rumah, dia mendekati. Lalu ayah pun mengobrol dengannya, sementara anaknya bermain dengan saya. (Rumah kami cukup dekat; hanya sepelemparan batu).

Selama mengobrol dengan ayah, si penjual wedang ronde tampak terkantuk-kantuk. Ayah menanyakan hal itu, lalu si penjual wedang ronde curhat. Dengan lugu, dia menceritakan sering kurang tidur, bahkan tidak tidur sama sekali, karena rutinitas dan kesibukan yang harus dijalaninya setiap hari. Dia punya lima anak, masih kecil-kecil. (Anaknya yang tertua, perempuan, kebetulan satu kelas dengan saya).

Seperti yang saya jelaskan tadi, si penjual wedang ronde biasa tidur seusai berjualan sehabis subuh. Tetapi, dia kadang tidak bisa tidur, karena berbagai sebab. Kadang anak-anaknya rewel, atau anak-anaknya minta ditemani bermain tanpa tahu si ayah harus istirahat. Kadang pula ada berbagai kesibukan rumah tangga yang harus segera dilakukan, sehingga dia pun terpaksa kurang tidur atau bahkan tidak sempat tidur sama sekali. Dan hal-hal semacam itu nyaris terjadi setiap hari.

“Saya sering ketiduran saat sedang jualan,” ujarnya menceritakan pada ayah. “Di terminal, saat tidak ada pembeli, saya kadang tertidur sambil duduk, dan biasanya terbangun saat ada pembeli yang membangunkan.”

Tetapi tidur saat sedang jualan bukan bagian klimaks. Karena seringnya kurang tidur, atau bahkan tidak sempat tidur sama sekali, dia juga pernah mendorong gerobaknya dari rumah ke terminal... sambil tidur!

Itulah kisah yang sampai saat ini tidak bisa saya lupakan, meski kisah itu telah saya dengar ketika masih anak-anak, bertahun-tahun lalu. Jadi, penjual wedang ronde itu menceritakan, bahwa suatu hari dia merasa kelelahan dan sangat mengantuk akibat kesibukan di rumah yang membuatnya tidak bisa tidur. Dari pulang jualan di pagi hari sampai saat akan berangkat jualan lagi di malam hari, dia belum sempat tidur sama sekali. Sementara badan juga sangat letih.

Tetapi dia harus tetap jualan, karena keluarganya butuh makan. Jadi, pada pukul 21:00 seperti biasa, dia kembali mendorong gerobaknya menuju terminal. Namun, karena matanya sudah sangat mengantuk, tanpa sadar dia tertidur sambil terus mendorong gerobak ke terminal. (Jarak dari rumah kami ke terminal sekitar 1 KM, dan waktu itu jalan raya belum seramai sekarang).

Ketika keluar dari gang, dia menuturkan, dia masih kuat menahan mata agar terus terbuka. Tapi saat sampai di jalan raya, dia benar-benar tidak kuat lagi menahan kantuk. Jadi, dia benar-benar tertidur sambil terus melangkah perlahan-lahan menuju terminal. Dia baru menyadari dirinya tertidur saat sampai di terminal, ketika telinganya mendengar suara-suara keras dan akrab yang biasa didengarnya di terminal. Lalu dia terjaga dari tidur, dan mendapati dirinya telah berada di terminal, tempatnya biasa berjualan.

Kisah tentang tidur sambil berjalan hingga ke terminal tanpa nyasar sebenarnya tidak luar biasa, karena kebiasaan yang dilakukan setiap hari menjadikan alam bawah sadar setiap orang dapat melakukan sesuatu secara otomatis. Karena tetangga saya setiap hari berjalan dari rumah ke terminal, dan telah melakukannya puluhan tahun, alam bawah sadarnya pun hafal rutinitas itu, dan “menuntunnya” sampai ke terminal.

Yang luar biasa bagi saya adalah, kenyataan bahwa seorang lelaki sampai kehabisan waktu untuk dirinya sendiri, hingga sampai tertidur ketika sedang berjalan mendorong gerobak ke tempat kerjanya! Itulah kenyataan “mengerikan” yang sampai sekarang tidak pernah bisa saya lupakan! Seorang manusia, seorang lelaki, kehabisan waktu sampai tidak bisa tidur, hingga terpaksa tidur sambil berjalan mendorong gerobak!

Jadi, ketika saya menyaksikan video seorang sopir bus di Singapura sampai memotong kukunya sambil mengemudi, saya bertanya-tanya, “Mengapa?”

Fakta bahwa dia dapat menjadi sopir bus di Singapura tentu karena dinilai waras dan memiliki kemampuan yang layak. Tapi mengapa seorang lelaki waras sampai memotong kukunya ketika sedang bekerja mengemudikan bus? Saya khawatir, jangan-jangan dia terpaksa memotong kukunya sambil bekerja, karena benar-benar tidak punya waktu saat di rumah.

Mungkin dia sopir yang baik, pengemudi yang bertanggung jawab pada para penumpangnya. Tetapi, bisa jadi dia punya banyak kesibukan di rumah—dari mengurusi anak-anak sampai membantu istri—sehingga benar-benar tidak punya waktu, meski sekadar untuk memotong kuku. Jadi, dia pun terpaksa memotong kuku saat busnya masuk jalan tol, agar kuku tangannya tetap rapi. Sialnya, waktu itu, seseorang menangkap hal tersebut dan merekamnya dalam video, yang kemudian berakhir dengan pemecatan.

Seperti tetangga saya yang jualan wedang ronde. Dia pasti menyadari bahwa tidur saat berjalan mendorong gerobak tentu sangat berbahaya. Bisa saja ada pengendara di jalan yang tanpa sengaja menabraknya, atau bisa saja dia sendiri yang tanpa sadar menabrak orang lain. Tapi dia terpaksa tidur—atau ketiduran—ketika sedang berjalan mendorong gerobak, karena memang tidak punya waktu lagi untuk tidur di rumah!

Kini, saat telah dewasa, dan teman-teman saya telah banyak yang menikah, kadang saya merasa kesepian dan kehilangan. Dulu, saat kami masih sama-sama lajang, kami sering berkumpul bersama, kapan pun dan di mana pun, mengerjakan banyak hal, bercerita tentang apa saja, dan menikmati canda tawa menyenangkan. Lalu satu per satu dari mereka menikah, berkeluarga, punya anak-anak, dan teman-teman saya pun menghilang perlahan-lahan.

Sering saya merindukan saat-saat dulu, ketika kami masih bisa bersama kapan saja dan di mana saja. Tapi kerinduan saya sepertinya tak pernah berujung. Karena teman-teman saya sudah sibuk dengan kehidupan yang sekarang—mengurusi keluarga, menemani istri dan anak-anak, dan hal-hal lain yang tidak saya tahu. Kadang saya datang ke rumah mereka, karena didorong rasa rindu. Namun saya tidak berani lama-lama, karena khawatir kedatangan saya telah mengganggu.

Setiap kali bertemu dan bercengkerama dengan teman-teman yang telah menikah dan berkeluarga, saya seperti diingatkan bahwa mereka bukan lagi yang dulu. Mereka bukan lagi teman-teman yang saya kenal pernah menghabiskan banyak waktu di masa lalu. Mereka kini orang-orang sibuk—dengan wajah lelah, menua, dan mengantuk—sebab mungkin kurang tidur, atau tak punya waktu memotong kuku, karena... bagi mereka, kehidupan telah berubah menjadi butir-butir waktu.

Menempuh Hidup Baru

Setiap bangun tidur, dan mulai sadar sepenuhnya, aku berkata pada diriku, “Selamat menempuh hidup baru.”

Ketika aku menceritakan hal itu pada temanku, dia berkata, “Pantas kamu nggak kawin-kawin!”

....
....

Mungkin temanku sedang lelah.

Atau mungkin pula dia tidak pernah hidup.

Bocah Paling Mbuh Sedunia

Bocah ini.

Sudah Sampai pada Tema

“Aku sudah sampai pada tema,” dia berucap.

Aku mengangguk.

Saat dia berlalu, aku menggumam, “Aku sudah sampai pada tema.”

Lalu menyulut rokok, mengisapnya sesaat, dan kembali menggumam, “Aku sudah sampai pada tema.”
 
Senin, 17 Agustus 2015

Soal @three4yu, @macangadungan, dan yang Saya Pikirkan

Selain puisi dan bunga, uang seratus ribu dan
permintaan doa agar yang memberi selalu lapang rejeki
juga bisa bikin cewek terenyuh.
@three4yu


Ada teman bertanya, “Kamu tidak suka orang ngomongin seks dan selangkangan secara vulgar. Tapi kenapa kamu mem-follow akun @three4yu di Twitter? Dia kan juga sering nge-tweet hal-hal seputar seks dan selangkangan?”

Bisa jadi, pertanyaan serupa juga ingin ditanyakan orang lain, khususnya yang sering membaca blog ini dan mem-follow akun saya di Twitter. Karenanya, saya merasa perlu memberikan jawaban dan penjelasan, agar tidak makin banyak yang salah paham. Namun, sebelum saya mulai ngoceh panjang lebar untuk menjawab dan menjelaskan, mari kita lihat kembali catatan saya mengenai seks dan selangkangan, agar kita bisa berbicara secara objektif dan kontekstual.

Berikut ini beberapa kalimat yang saya kutip dari catatan saya, Seks dan Selangkangan. Perhatikan bagian yang saya cetak tebal:

1) Cewek yang membicarakan seks secara vulgar dengan banyak orang mungkin akan menarik banyak cowok. Tapi yang jelas bukan aku.

2) Tentu munafik kalau aku bilang tak tertarik pada seks. Tapi aku tak pernah tertarik pada obrolan seks yang vulgar dengan banyak orang.

3) Membicarakan seks dan selangkangan dengan banyak orang secara vulgar itu murahan. Dan aku tak pernah tertarik dengan apa pun yang murahan.

4) Jika temanku membicarakan seks dan selangkangan secara vulgar dengan banyak orang, aku akan menjauh dan pura-pura tak mengenalnya.

5) Jika aku punya pacar yang membicarakan seks dan selangkangan secara vulgar dengan banyak orang, aku akan memutuskannya... detik itu juga.


Well, sudah melihat yang saya maksud? Pada semua kalimat tersebut, poin yang saya cetak tebal adalah “membicarakan dengan banyak orang”. Agar kalian lebih memahami yang saya maksud, sekarang saya akan mengutip kalimat pada catatan lain, yang juga menyinggung topik ini (post selengkapnya bisa dibaca di sini). Sekali lagi, perhatikan bagian yang saya cetak tebal.

“Di dunia ini hanya ada dua tempat yang bisa kita gunakan untuk membicarakan seks secara terbuka dengan banyak orang. Pertama di seminar, dan kedua dalam tulisan ilmiah (atau setidaknya dalam tulisan satu arah—tidak ada komunikasi antara pembaca dan penulis). Di luar itu, obrolan seks dengan orang banyak akan menjadi vulgar, bahkan murahan.”

Sekarang, apa sebenarnya yang dimaksud “membicarakan seks secara vulgar dengan banyak orang”? Agar penjelasannya lebih mudah dipahami, sekarang kita akan gunakan ilustrasi.

Umpamakan saja ada cewek bernama Mawar. Di Twitter atau Facebook, Mawar sangat hobi membicarakan seks dan selangkangan secara vulgar dengan banyak orang. Dengan cowok A, dia membicarakan seks. Dengan cowok B, dia membicarakan seks. Dengan cowok C, dia membicarakan seks. Dengan cowok D sampai cowok Z, dia membicarakan seks.

Tidak cukup hanya membicarakan seks secara vulgar dan terbuka dengan siapa pun, Mawar juga hobi menghubung-hubungkan apa pun dengan seks dan selangkangan. Cowok A menulis tweet soal handuk, Mawar merespons dengan menghubungkan handuk dengan seks. Cowok B menulis status soal badan yang capek, dan Mawar menghubungkan hal itu dengan seks. Dan begitu seterusnya.

Itulah yang saya maksud “membicarakan seks secara vulgar dengan banyak orang”, yaitu membicarakan seks dengan siapa pun, bahkan menghubungkan apa pun dengan seks. Biasanya orang yang punya kecenderungan semacam itu—cowok maupun cewek—bertujuan untuk menarik perhatian. Dan, demi segala demi, saya tidak pernah tertarik dengan orang semacam itu. Yang ada, saya justru merasa risih.

Hal itu berbeda dengan akun @three4yu. Memang benar dia rajin menulis tweet seputar seks dan selangkangan. Tapi dia hanya menulis, dan tidak membicarakannya dengan banyak orang. Saya ulangi, dia tidak membicarakannya dengan banyak orang! Dia hanya menulis tweet di timeline-nya, dan membiarkan siapa pun membaca. Memang kadang terjadi interaksi antara @three4yu dan follower-nya, tapi sebatas interaksi yang wajar sebagaimana orang umumnya.

Lebih dari itu, @three4yu memang menjadikan akun Twitter-nya sebagai semacam sex daily. Karenanya, siapa pun yang mem-follow akun miliknya telah menyadari bahwa timeline @three4yu memang sering men-tweet seks dan selangkangan. Ketika saya mem-follow akun @three4yu, saya pun sudah menyadari kenyataan itu. 

Mungkin ada yang gatal ingin bertanya, kenapa saya mem-follow akun @three4yu? Jawabannya sederhana, karena saya menganggap tweet-tweet-nya bermanfaat, khususnya bagi saya! Bahkan, terus terang, saya bersyukur ada wanita yang mau menulis tweet-tweet semacam itu. Bagi saya, itu pelajaran yang tidak bisa saya dapatkan di mana pun.

Sekarang saya ingin berterus terang mengenai latar belakang saya mem-follow orang-orang (khususnya wanita) tertentu di Twitter. Ada wanita-wanita yang mungkin tidak terkenal, biasa menulis tweet tidak jelas (bukan tweet-tweet bijak atau semacamnya), tapi saya mem-follow mereka. Saya hanya mem-follow, tapi nyaris tidak pernah berkomunikasi dengan mereka.

Salah satu wanita yang saya follow di Twitter, misalnya, adalah @macangadungan. Dia bukan selebritas atau semacamnya—dia wanita biasa, jenis wanita yang biasa saya temui sehari-hari. Saya tidak mengenal dia secara langsung. Tapi saya mem-follow akun Twitter-nya. Kenapa? Karena @macangadungan menulis di Twitter sebagai seorang wanita!

Ketika menulis tweet di Twitter, @macangadungan men-tweet hal-hal keseharian yang dialaminya sebagai seorang wanita. Tentang kerja lembur, tentang galau soal pacar, tentang barang yang ketinggalan, tentang perasaannya, pikirannya, hatinya, dan hal-hal remeh-temeh yang dia alami sebagai wanita. Tweet-tweet-nya kadang tidak jelas, bahkan tidak jarang juga konyol, tapi jujur dan apa adanya.

Bagi saya, tweet-tweet @macangadungan adalah pelajaran tentang memahami “apa sebenarnya yang dialami wanita dalam sehari-hari”—tentang kehidupannya, kebiasaannya, perasaannya, pikirannya, anything. Dan latar belakang itulah yang menjadikan saya mem-follow akunnya, yakni untuk belajar tentang wanita.

Sebagai lelaki, saya butuh pengetahuan tentang wanita. Beberapa pengetahuan mungkin dapat saya peroleh lewat buku-buku atau artikel ilmiah di berbagai media. Tapi ada jenis pengetahuan yang tidak bisa didapatkan melalui buku atau artikel ilmiah mana pun. Salah satunya adalah pengetahuan tentang keseharian wanita, yang biasa dialami wanita dalam kehidupan sehari-hari—hal-hal yang tidak mungkin dibahas di buku atau artikel ilmiah. Dalam hal itu, tweet-tweet @macangadungan—bagi saya—memberikan pelajaran tentang hal tersebut, bahkan secara live!

Latar belakang semacam itulah yang membuat saya mem-follow beberapa wanita di Twitter, meski kami mungkin jarang—bahkan tidak pernah—berinteraksi. Mereka mungkin bukan selebritas, bukan orang terkenal, pendeknya seorang wanita biasa. Tapi saya menyukai tweet-tweet mereka, karena memberikan pelajaran yang tidak bisa saya peroleh di mana pun, khususnya soal wanita. Latar belakang itu pula yang membuat saya mem-follow akun @three4yu.

Jika @macangadungan biasa men-tweet hal-hal keseharian sebagai wanita, @three4yu men-tweet hal-hal seputar seks dan urusan suami-istri dari sudut pandang wanita—dan dia mengungkapkannya secara jujur. Bagi lelaki bodoh seperti saya, itu juga pelajaran penting yang perlu saya pahami, agar saya tahu seperti apa pikiran dan perasaan wanita terhadap urusan seks dan hubungan suami-istri.

Jujur saja, saya telah membaca ratusan buku pengetahuan seks, dari yang ditulis Naek L. Tobing sampai yang diulas Alfred Kinsey, dari urusan anatomi seks sampai multi-orgasme dan G-Spot dan Kamasutra dan Tantra dan... oh, well, sebut apa pun. Tetapi semua buku ilmiah itu tidak ada satu pun yang menjelaskan hal-hal sebagaimana yang ditulis @three4yu dalam tweet-tweet-nya!

Bisakah kalian memahami yang saya pikirkan? Saya tahu hal-hal mendalam tentang banyak hal, tapi saya justru kebingungan ketika memahami hal-hal yang bisa dibilang “biasa”. Saya tahu teori-teori rumit soal psikologi wanita, tapi saya tidak tahu bagaimana keseharian mereka. Saya tahu teori-teori seksologi seputar wanita, tapi saya tidak tahu bagaimana pikiran dan perasaan wanita tentang seks yang sebenarnya!

Di tengah-tengah kegalauan semacam itulah, saya sangat bersyukur dengan adanya @macangadungan dan @three4yu—atau wanita lainnya—di Twitter, sehingga saya bisa mem-follow mereka, dan belajar tentang hal-hal yang tidak saya tahu tentang wanita. Tanpa mereka sadari, mereka telah memberikan banyak pengetahuan penting kepada saya—tentang wanita, tentang perasaan wanita, tentang pikiran wanita, tentang keseharian wanita, anything.

Di Twitter, saya bahkan lebih tertarik pada orang-orang yang men-tweet hal-hal biasa—seputar keseharian, dan hal-hal semacam itu—daripada akun-akun yang biasa menyemburkan pengetahuan ilmiah atau tweet-tweet bijak. Percayalah, dalam hal pengetahuan ilmiah dan kebijaksanaan, saya sudah belajar terlalu banyak! Yang masih saya butuhkan adalah pelajaran tentang wanita, yang langsung diberikan seorang wanita! Dan, oh ya, harus secara jujur dan apa adanya!

Jadi, sekarang kalian telah melihat alasan mengapa saya mem-follow @three4yu, meski dia biasa menulis tweet seputar seks dan selangkangan. Dia memang rajin menulis tweet soal seks dan selangkangan, tapi dia tidak membicarakannya dengan banyak orang! Poin itulah yang saya perhatikan. Dia hanya menulis pikiran dan perasaannya soal seks dan hubungan intim, secara jujur, apa adanya, tanpa sok jaim-jaiman, tetapi—sekali lagi—dia tidak membicarakannya dengan banyak orang!

Memang, di Twitter ada banyak wanita yang suka menulis tweet soal seks dan selangkangan. Tapi umumnya mereka menulis hal-hal itu untuk menarik perhatian, sehingga mereka juga aktif membicarakannya dengan siapa saja yang kebetulan menyambar. Karenanya pula, wanita-wanita itu pun biasanya belum punya pasangan.

Hal itu berbeda dengan @three4yu. Dia punya suami—saya tahu betul hal itu, karena saya juga mem-follow akun suaminya di Twitter. Saya bahkan tahu mereka telah memiliki seorang anak kecil yang lucu. Karenanya, ketika men-tweet soal seks dan selangkangan, @three4yu memang murni ingin menulis soal itu, bukan dengan maksud menarik perhatian atau mencari pasangan. Sekali lagi, bisakah kita melihat perbedaan esensialnya?

Jika wanita menulis tweet soal seks dan selangkangan dengan tujuan untuk menarik perhatian, hampir bisa dipastikan tweet-nya tidak jujur. Mengapa? Karena tujuannya untuk menarik perhatian! Bagaimana pun, dia akan berusaha membuat tweet-nya semenarik mungkin, agar dapat menarik perhatian. Dan, terus terang, saya tidak tertarik pada tweet-tweet semacam itu!

Hal itu, sekali lagi, berbeda dengan @three4yu. Dia menulis secara jujur, apa adanya, karena tweet-tweet-nya memang tidak ditujukan untuk menarik perhatian. Dia hanya menuliskan hal-hal yang dipikirkan atau dirasakannya sebagai seorang wanita, sebagai istri, sebagai ibu, sebagai seorang pasangan. Tweet-tweet jujur semacam itulah yang saya butuhkan, untuk belajar... agar saya lebih bisa memahami wanita.

Akhirnya, saya berharap @three4yu, @macangadungan, juga wanita-wanita lain di Twitter, terus men-tweet hal-hal biasa tentang diri mereka sebagai wanita, secara jujur dan apa adanya seperti biasa, agar lelaki-lelaki bodoh seperti saya bisa terus belajar tentang wanita. Percayalah, di luar sana ada banyak lelaki yang sama bodohnya dengan saya, namun mungkin terlalu malu untuk mengakuinya.

Tak Tahu maka Tak Cinta

Nindy, sebut saja begitu, adalah blogger terkenal—banyak orang membaca tulisan-tulisannya, dan berbagai media massa pernah mengulas blognya. Foto-foto Nindy pun tersebar di mana-mana, hingga dia mudah dikenali siapa saja.

Dia wanita mengagumkan—semua orang tahu. Selain enak dilihat, dia juga pintar dan berwawasan. Tulisan-tulisannya di blog menjadi bukti. Di blognya, Nindy menulis kehidupannya, kisah pribadinya, pikiran-pikirannya, dan semua itu memukau siapa pun yang membaca.

Dalam suatu acara publik, seorang lelaki mendekati Nindy yang kebetulan sedang duduk sendirian menekuri ponselnya.

“Nindy?” sapa si lelaki.

Nindy mengangkat muka, dan tersenyum ramah. Tetapi sedikit bingung, karena tidak tahu siapa lelaki itu.

Memahami kebingungan Nindy, lelaki itu pun memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan, “Edi.”

Nindy menyambut uluran tangan itu, dan berusaha tampak ramah, “Oh, hei, Edi.”

Edi tampak lega. “Tidak keberatan aku duduk di sini?”

“Oh, ya, tentu saja.”

Edi duduk. Menatap Nindy sesaat, kemudian berkata, “Aku penggemar berat blogmu, Nindy. Setiap hari, setiap saat, setiap waktu, aku selalu membaca tulisan-tulisanmu.”

“Senang mendengarnya.”

Edi melanjutkan, “Kau menulis dengan jujur, apa adanya, menceritakan dirimu dengan sangat terbuka, hingga aku merasa sangat... sangat mengenalmu. Meski kita baru ketemu—maksudku, meski aku baru melihat sosokmu sekarang—aku merasa sudah lama mengenalmu. Oh, sebenarnya, aku sangat mengenalmu. Blogmu yang selalu kubaca membuatku tahu apa pun tentang dirimu.”

“Aku selalu berusaha menulis dengan jujur,” ujar Nindy.

Edi mengangguk. Tapi dia tampak ragu. Bibirnya bergerak-gerak sesaat, lalu tampak memberanikan diri untuk kembali bicara, “Begini, Nindy. Aku... aku telah lama jatuh cinta kepadamu. Membaca tulisan-tulisanmu, aku tidak hanya merasa sangat mengenalmu, aku juga sangat mengagumimu, dan jatuh cinta kepadamu. Aku merasa yakin, kaulah wanita yang selama ini kucari dan kuimpikan.” Diam sesaat. Lalu Edi melanjutkan, “Jadi, kau mau jadi pacarku?”

Nindy tersenyum.

Sesaat, waktu membeku.

Karena Edi diam, tampak menunggu, Nindy pun berkata perlahan-lahan, “Mari kita lihat. Kau merasa sangat mengenalku, karena membaca tulisan-tulisanku di blog. Kenyataannya, aku memang selalu berusaha menulis dengan jujur. Jadi, kau telah tahu siapa aku, tahu latar belakangku, tahu pikiran-pikiranku, tahu isi hatiku, tahu seperti apa kehidupanku, bahkan tahu impian-impianku. Karena kau merasa sangat mengenalku, kau jatuh cinta kepadaku, dan berharap aku mau jadi pacarmu. Nah, masalahnya adalah... aku sama sekali tidak tahu siapa dirimu.”

“Tapi aku sangat mengenalmu, Nindy! Aku jatuh cinta kepadamu!”

“Itu pula yang dikatakan banyak lelaki lain. Mereka menyatakan sangat mengenalku. Yang tidak mereka pikirkan adalah... apakah aku juga mengenal diri mereka?”

Ingin Rusak

Dari dulu aku ingin rusak. Tapi tidak pernah bisa.

Kenyataan itu kadang membuatku sedih.

Kamis, 13 Agustus 2015

Misteri yang Tidak Saya Pahami (2)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Saya kaget mendengar cerita itu. Saya tanya pada Teguh, jam berapa tadi dia datang? Teguh bilang sekitar jam delapan. Saya menjelaskan, waktu itu saya sudah keluar dari rumah, dan saat ini baru saja pulang. Pacar saya menjadi saksi, bahwa kami tadi keluar makan sekitar jam 19:30, dan tentu saja selama itu saya tidak ada di rumah. Saya dan pacar bahkan sampai bersumpah kalau kami benar-benar baru pulang (waktu itu sekitar pukul 21:00). Tetapi, Teguh juga sampai bersumpah kalau tadi dia benar-benar melihat saya di dalam rumah!

“Mungkin yang kamu lihat bukan aku, Guh,” ujar saya waktu itu dengan heran.

“Yang tadi kulihat itu kamu,” sahut Teguh yakin. “Bahkan kaus yang dipakai pun sama, seperti yang kamu pakai sekarang!” (Waktu itu saya pakai kaus hitam). Lalu dia melanjutkan, “Aku kenal kamu sejak lama, jadi tentu aku bisa membedakan itu kamu atau bukan. Yang tadi aku lihat benar-benar kamu! Tapi kamu cuma berdiri di sono, dan menatap aku, nggak bergerak, nggak ngomong apa-apa, sampai aku jadi bingung!”

Lalu Alkaf menimpali, “Kalau pun yang tadi dilihat Teguh bukan kamu, lalu siapa? Wong kamu tadi sedang keluar rumah, dan baru saja pulang?”

Teguh memang menyatakan, bahwa dia melihat ruang belakang agak gelap, yang artinya lampu di sana mati, dan tanda itu memberitahu Teguh bahwa saya sedang keluar. Tetapi karena dia melihat sosok saya di dalam rumah, Teguh pun menyimpulkan saya di rumah, terlepas lampu ruang belakang mati atau tidak.

(Sekadar catatan, rumah yang saya tempati itu dulunya milik juragan batik, sehingga interior rumah didesain mirip showroom. Dari ruang depan sampai ruang belakang berbentuk lurus panjang sekaligus lebar, bersih dan terang benderang, sehingga tidak memunculkan kesan wingit atau menakutkan sedikit pun, bahkan ketika lampu ruang belakang dimatikan.)

Malam itu, kami tidak memperoleh kesepakatan apa pun. Saya bersikukuh baru saja pulang ke rumah, yang dikuatkan oleh kesaksian pacar, sementara Teguh juga bersikukuh melihat saya di rumah saat tadi dia datang. Saya menyimpulkan, mungkin Teguh salah lihat, meski dia sangat yakin pada yang dilihatnya. Kenyataannya, tidak ada orang lain di rumah selain saya. Jika saya sedang keluar, artinya tidak ada siapa pun di dalam rumah.

Apakah cerita ini sudah selesai?

Mungkin kisah misterius itu akan terlupa dan hilang sendiri, kalau saja ceritanya berhenti sampai di situ. Tapi ternyata tidak!

Sekitar empat bulan setelah peristiwa itu, saya janjian dengan Topik. Jika Teguh adalah teman kuliah, Topik adalah teman bermain. (Topik kuliah di kampus lain; tidak sekampus dengan kami). Topik dan Teguh juga tidak saling kenal. Tetapi, anehnya, mereka mengalami hal serupa!

Sebelumnya, Topik telah sering datang ke rumah saya, bahkan beberapa kali menginap. Di rumah saya ada perpustakaan, dan Topik senang membaca-baca buku koleksi saya, bahkan kadang sampai tertidur di sana. Selama waktu-waktu itu tidak ada kejadian apa pun. Sampai suatu hari....

Hari itu, saya dan Topik tanpa sengaja ketemu. Saya sedang beli siomay yang berhenti di depan rumah, dan melihat Topik lewat bersama kakaknya. Topik pun berhenti sesaat, lalu bilang ingin dolan nanti malam. Rencananya, dia sekalian mau pinjam komputer saya untuk mengetik tugas makalah. “Udah lama nggak ngobrol asyik sama kamu,” ujarnya waktu itu.

Kebetulan, nanti malam saya akan keluar, dan bisa jadi akan cukup lama. Namun, karena tidak ingin mengecewakan Topik, saya pun memberikan kunci pintu rumah saya, dan bilang kepadanya, “Gini aja, Pik. Sambil nanti malam kamu nunggu aku pulang, kamu bisa mengetik makalahmu di komputerku. Jadi, kalau pas kamu datang dan aku belum pulang, kamu bisa masuk rumah dengan kunci itu.”

Topik menerima kunci yang saya berikan. Saya tidak membutuhkan kunci tersebut, karena biasa keluar masuk rumah lewat garasi. Saya juga berani mempercayakan kunci rumah pada Topik, karena saya memang percaya kepadanya.

Malam harinya, selepas maghrib, saya keluar rumah—lewat garasi. Seperti biasa, saya pun mematikan lampu belakang, agar siapa pun yang datang bisa tahu kalau saya sedang keluar. Sekitar jam sembilan malam, Topik datang ke rumah. Rencananya, dia akan mengetuk pintu. Kalau tidak ada sahutan dari dalam, artinya saya belum pulang, dan Topik akan menggunakan kunci yang saya berikan untuk masuk rumah. Tetapi...

Tetapi... inilah misteri yang sampai saat ini tetap tidak saya pahami.

Ketika Topik sampai di rumah saya, dia memang mengetuk pintu depan. Tetapi, di luar dugaan, seseorang membukakan pintu! Dan, berdasarkan pengakuan Topik, orang yang membukakan pintu adalah saya!

Jadi, saat mendapati pintu rumah dibukakan dari dalam, Topik pun mengira saya sudah pulang. Kenyataannya dia berani bersumpah bahwa orang yang membukakan pintu untuknya memang saya. Tanpa curiga atau berpikir macam-macam, Topik menyerahkan kunci rumah yang tadi siang saya berikan kepadanya. Menurut Topik, sosok yang ditemuinya waktu itu menerima kunci tersebut, dan mengangguk. Setelah itu, mereka duduk di ruang tamu. Topik berhadap-hadapan dengan seseorang yang ia yakin diri saya... padahal waktu itu saya sedang keluar dan tidak ada di rumah!

Ketika duduk di ruang tamu, Topik melihat lampu belakang yang padam, dan dia sempat menanyakan hal itu pada sosok yang duduk bersamanya di ruang tamu. Tetapi, menurut Topik, sosok itu hanya mengangguk, dan menjawab, “Ya, padam.”

Bahkan suara yang didengar Topik juga suara saya. Waktu itu, Topik benar-benar yakin sedang duduk berhadapan dengan saya. Tetapi, menurut Topik, yang membuatnya merasa agak aneh, saya tampak pucat, dan tidak secerah biasanya. “Tapi waktu itu aku mengira kamu sedang punya beban pikiran,” ujar Topik belakangan. Selama mereka duduk berdua di ruang tamu, percakapan juga terasa kaku atau tidak secair biasanya, menurut Topik.

Yang jelas, sekitar seperempat jam setelah Topik datang, saya pulang ke rumah. Saat sampai rumah, seperti biasa, saya masuk lewat garasi. Ketika membuka pintu garasi, saya melihat pintu depan rumah dalam keadaan terbuka, dan saya menyimpulkan, “Berarti Topik udah datang.”

Dari garasi, saya masuk rumah lewat pintu tengah, lalu menemui Topik di ruang tamu. Saya pun tersenyum melihatnya duduk sendirian di ruang tamu, dan langsung menyapa, “Udah lama nunggu?”

Tapi Topik hanya menatap saya seperti melihat hantu.

Saya pun duduk di sofa, dan dengan santai menyalakan rokok, seperti biasa, seperti hari-hari lain. Topik terus diam dan memperhatikan saya dengan tatapan bingung. Pandangannya mengarah pada saya, lalu menatap ke ruang belakang, begitu terus menerus. Saya mulai curiga ada yang tidak beres. Lalu bertanya pada Topik, “Kenapa, Pik?”

“Ini benar kamu? Kamu baru pulang? Ini benar kamu?” dia mengulang-ulang pertanyaan itu seperti orang linglung.

Saya memastikan, “Ya, ini aku. Aku baru pulang.”

Sekarang Topik menampakkan ekspresi ngeri, dan berbisik, “Jadi yang tadi itu siapa?”

Kalau saja tidak menyaksikan ekspresi Topik yang tampak nyata, saya pasti akan berpikir kalau Topik sedang bercanda atau ingin mengerjai saya. Tapi ekspresinya benar-benar jujur, dan saya tahu dia sedang shock. Saya bahkan sempat ikut terpengaruh dengan kengerian yang ditunjukkannya.

Lalu saya tanya apa yang telah terjadi, dan Topik menceritakan sambil ketakutan. Bahwa tadi, saat dia datang, seseorang membukakan pintu, dan dia yakin orang itu saya, karena wujudnya benar-benar serupa saya, bahkan pakaian yang dikenakan juga sama (waktu itu saya memakai celana jins dan kemeja kasual biru muda). Topik yakin itu benar-benar saya, dan mengira saya telah pulang. Lalu mereka sempat duduk dan bercakap.

Saya langsung tanya, “Lalu ke mana orang itu?”

Topik menjelaskan, sekitar semenit sebelum saya pulang, orang yang dilihatnya tadi bilang akan ke belakang. Lalu dia pun pergi ke belakang—Topik sempat mengira orang itu akan ke kamar mandi atau ke dapur untuk membuat minum. Topik tetap duduk di ruang tamu. Semenit kemudian, saya—yang benar-benar saya—datang ke rumah dan masuk lewat garasi. Lalu menemui Topik di ruang tamu. Dan Topik pun shock.

Karena Topik mengatakan orang tadi ke belakang, saya pun mengajak Topik untuk mengecek ke belakang rumah. Sambil ketakutan, Topik menemani saya mengecek. Saya menyalakan semua lampu hingga rumah terang benderang, dan mengecek ruang demi ruang—kamar mandi, dapur, gudang, perpustakaan, taman, kolam ikan, halaman belakang—bahkan kami sempat menyisir kamar tidur serta garasi. Tapi orang yang katanya tadi dilihat Topik tidak ada sama sekali. Kesimpulannya, rumah benar-benar kosong, tidak ada siapa pun, selain saya dan Topik!

Hanya ada dua kemungkinan—Topik berbohong, atau Topik tidak berbohong.

Tetapi, berdasarkan ekspresi yang ditunjukkannya, saya percaya Topik tidak berbohong. Dia benar-benar menceritakan yang memang dialaminya. Lebih dari itu, saya jadi teringat pada cerita Teguh beberapa waktu sebelumnya. Tak jauh beda dengan Topik, Teguh juga mengalami hal serupa—menyaksikan sosok yang ia yakin diri saya, padahal bukan saya. Malam itu pun, Topik tak mau berlama-lama di rumah saya. Dia ingin segera pulang.

Sepulang dari rumah saya malam itu, Topik mengalami demam hingga seminggu.

Cerita itu pun—mengalir dari mulut ke mulut—diketahui banyak orang, dan mereka seketika gempar. Itu jenis cerita yang tidak bisa ditahan apalagi dibungkam. Tetangga-tetangga membicarakan di mana-mana, teman-teman mengobrolkan sampai berhari-hari, hingga orangtua saya ikut mendengar kisah tersebut. Bahkan, sejak itu, orang-orang yang saya kenal seperti mulai punya kebiasaan baru. Setiap kali mereka bertemu atau berpapasan dengan saya, mereka akan bilang, “Ini benar-benar kamu?”

Kalau saja cerita aneh itu hanya dialami Teguh atau hanya dialami Topik, mungkin banyak dari kami yang tidak akan percaya. Atau, setidaknya, kami tidak akan terlalu terpengaruh. Bisa saja Teguh salah lihat, atau bisa saja Topik berbohong dan mengarang-ngarang cerita. Tetapi cerita yang tak masuk akal itu dialami dua orang—kisah Teguh seolah dikonfirmasi oleh kisah Topik. Mau tidak mau, orang akan percaya, bahkan saya sendiri pun akhirnya juga percaya.

Sejujurnya, ketika dulu Teguh menceritakan kisahnya—bahwa dia melihat diri saya di dalam rumah, padahal saya sedang keluar—saya tidak terlalu percaya. Selama waktu-waktu itu, saya berpikir bahwa Teguh mungkin salah lihat. Dia mungkin melihat sesuatu yang ia sangka dilihatnya, padahal sebenarnya tidak ada. Itu kejadian umum yang bisa dialami siapa pun. Dalam psikologi, hal semacam itu disebut scotoma.

Tetapi, ketika kisah serupa dialami Topik, keyakinan saya mulai goyah. Teguh dan Topik tidak saling kenal. Topik juga tidak pernah mendengar kisah Teguh. Jadi, ketika Topik menceritakan kisah aneh itu, dengan segenap ekspresi ketakutan—bahkan dia sampai mengalami demam akibat shock—saya pun mau tak mau seperti dipaksa untuk percaya.

Tapi percaya apa...?

Itulah pertanyaan krusialnya. Percaya bahwa ada sosok lain yang serupa dengan diri saya, yang dilihat Teguh dan Topik di rumah, padahal saya sedang keluar? Percaya bahwa ada makhluk entah apa yang bisa menyerupakan dirinya hingga benar-benar mirip saya, yang lalu dilihat Teguh dan Topik pada waktu berbeda? Jika sosok misterius itu benar-benar ada, saya tidak pernah melihat apalagi menemuinya—dan saya tetap bingung untuk percaya atau tidak percaya.

Kini, saat menulis catatan ini, saya tetap tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi bertahun-tahun lalu itu. Saya yakin, Teguh, Alkaf, Topik, maupun teman-teman lain, masih mengingat kisah itu, sebagaimana saya masih mengingatnya. Semua orang sepakat bahwa kisah itu benar-benar terjadi, dan pelan-pelan saya pun menerima bahwa kisah itu mungkin memang benar-benar terjadi. Tetapi, meski begitu, saya tetap tidak mampu memahami apa yang sebenarnya telah terjadi.

....
....

Mungkin memang tidak semua hal dalam hidup harus dapat dipahami. Beberapa hal mungkin harus tetap menjadi misteri. 

Misteri yang Tidak Saya Pahami (1)

Kalau dipikir-pikir,
semua ini tidak ada yang masuk akal!
@noffret


Sebenarnya, saya tidak terlalu tertarik—bahkan tidak terlalu percaya—pada hal-hal gaib semacam hantu, kuntilanak, makhluk halus, dan semacamnya. Bahkan meski pernah menyaksikan hantu secara langsung (seperti yang pernah diceritakan di sini), saya tetap belum terlalu yakin. Bisa jadi, penglihatan saya waktu itu sedang mengalami masalah, sehingga mata saya melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

Tetapi, tampaknya, ketidakpercayaan (atau kekurangpercayaan) itu harus berbenturan dengan realitas yang seolah memaksa saya untuk percaya.

Ada banyak orang dan banyak cerita faktual yang mengisahkan keberadaan hantu dengan berbagai varian. Ada yang menceritakan pernah melihat kuntilanak, ada yang pernah dikejar sundel bolong, ada yang pernah menyaksikan penampakan, dan lain-lain. Tidak hanya orang asing yang tak saya kenal, bahkan teman-teman yang saya kenal pun pernah menceritakan hal semacam itu, dan saya tahu mereka orang-orang jujur.

Ada teman yang pernah berfoto bersama sekelompok orang, dan hasil foto menampakkan sesosok wanita berbalut kain putih dengan wajah mengerikan di antara mereka. Foto itu dibuat lewat ponsel, dan saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa makhluk-mengerikan-entah-apa-itu memang ada dalam foto tersebut. Ketika menyaksikan “penampakan” itu, mau tak mau saya seperti dipaksa untuk percaya.

Selain aneka kisah dan foto misterius tersebut, cerita misterius serupa juga pernah saya dengar, kali ini bahkan lewat tuturan para tetangga.

Di depan rumah orangtua saya ada mushala. Di mushala itu ada sebuah amben (balai-balai) yang terbuat dari kayu jati. Amben itu sumbangan seorang warga, dan biasa digunakan jika ada orang meninggal. Jadi, kalau ada warga meninggal dunia, dan kebetulan di rumahnya tidak ada amben untuk membaringkan si mati, para tetangga akan mengambil amben di mushala untuk keperluan tersebut.

Karena amben kuno dan terbuat dari kayu jati, amben itu pun sangat berat. Setidaknya dibutuhkan empat pria dewasa untuk dapat menggotong amben tersebut. Jika tidak digunakan, amben itu biasa diletakkan di belakang mushala yang menyatu dengan tempat wudhu. Nah, amben itu memunculkan kisah yang sangat aneh, yang bahkan telah disaksikan atau didengar suaranya langsung oleh orang-orang di sekitar mushala.

Agar kalian bisa membayangkan yang akan saya ceritakan, biar saya jelaskan dulu peta bangunan mushala tersebut. Mushala itu menghadap ke utara, dan di samping kiri mushala terdapat lorong cukup panjang selebar 1,5 meter. Lorong itu menuju belakang mushala, dan di bagian belakang terdapat tempat wudhu. Tempat wudhu dan tempat shalat dibatasi dinding, dan pada dinding itulah amben tadi disandarkan dalam posisi miring.

Kemudian, jika mushala tidak digunakan (khususnya setelah shalat isya’ sampai waktu shalat subuh), pintu-pintu mushala akan dikunci, sementara depan lorong mushala akan ditutup dan digembok. Dengan kata lain, setelah shalat isya’, tidak ada orang bisa masuk area mushala (kecuali pada bulan Ramadan, yang biasanya ada shalat tarawih dan pembacaan Al-Qur’an sampai larut malam).

Pertama kali saya mendengar keanehan amben itu dari adik saya. Waktu itu, adik saya baru pulang dari rumah teman, dan hari telah larut malam. Saat dia akan masuk rumah, terdengar suara keras dari samping mushala. Suaranya seperti sesuatu yang sedang diseret dengan kasar. Adik saya langsung paham, itu suara amben yang sedang ditarik atau diseret di lorong samping mushala. Yang tidak dia paham, siapa yang malam-malam menyeret amben?

Waktu itu mushala sudah gelap, karena telah larut malam. Dengan merinding, adik saya buru-buru masuk rumah. Tetapi, sampai dia akan tidur di kamarnya, suara-suara keras seperti amben diseret itu masih terdengar. Besok paginya, dia bertanya-tanya pada tetangga di kanan-kiri mushala, dan mereka semua juga mendengar suara yang sama. Bahkan, menurut para tetangga, itu bukan pertama kali. Sebelum malam itu, suara-suara serupa sudah sering terdengar.

Pernah ada yang nekat melihat untuk memastikan suara apa itu sebenarnya, dan ternyata memang amben di belakang mushala itu sedang diseret di lorong samping mushala. Yang misterius, sosok si penyeret tidak terlihat. Jadi yang tampak hanya amben itu bergerak-gerak terseret di lorong samping mushala. Yang lebih misterius, besoknya amben itu telah berada di tempatnya semula—di tempat wudhu—seolah tidak pernah bergerak sama sekali.

Kisah itu telah diceritakan banyak orang, jadi bisa dipastikan bukan karangan adik saya atau cerita rekaan satu dua orang. Bahkan, untuk meyakinkan diri, saya telah menanyakan hal itu pada para tetangga, dan mereka menyatakan hal yang sama. Bahwa, di waktu-waktu tertentu, amben di mushala itu bergerak sendiri dengan misterius, dan menimbulkan suara-suara yang dapat didengar siapa pun. Sebegitu sering, hingga orang-orang di sekitar mushala pun lama-lama jadi terbiasa—tidak terlalu ketakutan seperti sebelumnya.

Apakah cerita ini sudah menakutkan? Well, tunggu sampai kalian mendengar cerita selanjutnya....

Pada waktu awal kuliah, saya mengontrak sebuah rumah, seperti yang saya ceritakan di sini. Rumah yang saya tempati waktu itu memiliki fentilasi (lubang angin) di bagian depan yang cukup lebar. Di depan rumah, di bawah jendela, juga terdapat sedikit tembok yang bisa dipanjat, karena ada bidang yang dapat dijadikan tumpuan kaki. Jadi, kalau teman-teman saya datang, dan mereka sudah mengetuk pintu tapi saya tidak muncul, mereka biasanya akan memanjat tembok tadi untuk melihat lewat lubang angin, untuk memastikan apakah saya di rumah atau tidak.

Biasanya, kalau saya sedang keluar malam hari, lampu ruang belakang akan saya matikan. Sementara, kalau siang hari, gorden samping rumah—yang bersebelahan dengan taman—akan saya tutup, sehingga ruang tengah akan sedikit gelap. Tanda itu menjadi acuan teman-teman saya untuk memastikan apakah saya di rumah atau tidak. Jika mereka datang siang hari, dan mendapati ruang tengah agak gelap, artinya saya sedang keluar. Begitu pula kalau mereka datang malam hari, dan mendapati lampu ruang belakang mati, artinya saya juga sedang keluar.

Sebaliknya, jika mereka datang, namun tanda-tanda itu tidak ada, tapi saya tidak juga muncul membukakan pintu, mereka pun akan memahami, mungkin saya sedang di kamar mandi, dan biasanya mereka akan menunggu sesaat. Atau bisa pula saya sedang tidur (ketiduran), dan mereka akan mengetuk atau menelepon ke ponsel saya. Intinya, teman-teman yang biasa datang ke rumah telah memahami hal-hal tersebut.

Nah, suatu malam, ada seorang teman bernama Teguh datang ke rumah. Kebetulan, waktu itu, saya sedang keluar untuk makan malam bersama pacar. Teguh mengetuk pintu, tapi saya tidak juga muncul. Seperti kebiasaan yang biasa dilakukan, Teguh pun memanjat tembok depan rumah untuk melihat lewat lubang fentilasi. Berdasarkan pengakuannya, Teguh menyatakan bahwa waktu itu ruang belakang tampak gelap, yang artinya saya sedang keluar. Tetapi...

Tetapi... inilah yang sangat mengerikan.

Meski Teguh melihat ruang belakang tampak gelap, tapi dia mengaku melihat diri saya di dalam rumah. Menurut ceritanya kemudian, dia melihat saya berdiri di ruang tengah, menatap Teguh yang sedang mengintip lewat fentilasi. Teguh yakin yang ia lihat itu saya, karena sosoknya benar-benar diri saya. Yang tidak dipahami Teguh, waktu itu saya hanya berdiri, tak bergerak, dan hanya menatapnya. 

Teguh menunggu sesaat, menanti saya membukakan pintu rumah. Tapi saya tidak juga muncul. Perasaan Teguh tidak enak, tapi waktu itu dia belum curiga apa-apa, selain menyimpulkan, “Apa mungkin Hoeda lagi jengkel sama aku?”

Karena menunggu saya tidak juga membukakan pintu rumah, dan Teguh jadi tidak enak, dia pun lalu pergi ke rumah Alkaf, sohib saya yang lain (waktu itu rumah Alkaf tergolong cukup dekat dari rumah saya). Kepada Alkaf, Teguh menceritakan bahwa dia baru datang ke rumah saya, tapi saya hanya menatapnya dari dalam rumah, dan tidak membukakan pintu. Mendengar penuturan itu, Alkaf pun berinistiatif untuk mengklarifikasi. Jadi, dia lalu bersama Teguh datang ke rumah saya.

Kebetulan, beberapa saat sebelum Alkaf dan Teguh datang, saya sudah pulang ke rumah bersama pacar. Kami masuk rumah lewat garasi. Dari garasi, pacar saya menuju ruang depan, sementara saya ke belakang untuk menyalakan lampu sekalian mengambil minum. Sesaat kemudian, saya bercakap-cakap dengan pacar di ruang tamu. Baru beberapa menit bercakap, Alkaf dan Teguh datang.

Saya menerima mereka tanpa berpikir macam-macam, dan menyambut mereka seperti biasa. Lalu Alkaf menceritakan, bahwa tadi Teguh datang ke rumah, dan melihat saya di dalam rumah, tapi tidak membukakan pintu meski telah lama ditunggu. “Kamu lagi jengkel sama Teguh?” tanyanya waktu itu.

Lanjut ke sini: Misteri yang Tidak Saya Pahami (2)

Obat Stres Terbaik

Baru pulang dari pameran buku dan dapat buanyak buku bagus. Seneeeeeeeeeeng banget. Rasanya seperti orgasme.
—Twitter, 8 April 2015

Obat stres terbaik memang belanja buku, membaca buku, mengunjungi pameran buku, atau apa saja yang berhubungan dengan buku.
—Twitter, 8 April 2015

Melihat buku yang terkemas plastik bening dengan kencang dan mulus, rasanya seperti melihat cewek seksi berbaju ketat. Menggoda pikiran.
—Twitter, 8 April 2015

Yang paling kusukai setelah membeli buku baru; saat melepas plastik pembungkusnya perlahan-lahan dan penuh hidmat. Sebuah ritual yang agung.
—Twitter, 8 April 2015

Sebenarnya, aku tak pernah membaca buku. Yang kulakukan adalah menyetubuhi buku. Saat membuka lembar-lembarnya, jiwaku masuk ke dalamnya.
—Twitter, 8 April 2015

Dalam hidup, aku tidak punya banyak teman. Tapi bersama buku, aku merasa memiliki teman sebanyak apa pun yang kuinginkan.
—Twitter, 8 April 2015

Bagi bocah sepertiku, buku adalah benda terbaik, teman terbaik, karunia terbaik, pasangan terbaik. Bersamanya, aku merasa utuh.
—Twitter, 8 April 2015

Orangtuamu menghakimimu, gurumu menilaimu, temanmu membandingkanmu, pacarmu menyakitimu, tapi buku... ia tulus dan hening menemanimu.
—Twitter, 8 April 2015

Aku tak bisa membayangkan akan seperti apa hidupku kalau tak ada buku. Dia telah menjadi guru terbaik, pembimbing terkasih, teman sehati.
—Twitter, 8 April 2015

Jika kelak aku ditakdirkan masuk surga, hal pertama yang akan kupastikan ada buku di sana. Jika tidak ada, mungkin aku balik ke dunia saja.
—Twitter, 8 April 2015

Karya terbaik manusia adalah buku. Tak ada yang lebih agung dari itu.
—Twitter, 8 April 2015


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

Jangan Bertaruh Denganku

Tentu saja apa pun pilihanmu, tetapi jangan bertaruh denganku. Karena aku tidak akan kehilangan apa pun.

Aku tidak butuh apa pun, dan aku bisa mendapatkan apa pun tanpamu. Kau tidak bisa mengiming-imingi apa pun, dan kau tak perlu repot-repot menjanjikan apa pun.

Jadi, jangan bertaruh denganku. Percuma, karena apa pun hasilnya, kau pasti kalah.

Kalau kau ingin aku memenuhi keinginanmu, hanya ada satu cara. Penuhi dulu keinginanku. Tidak ada cara lain selain itu.
 
Sabtu, 08 Agustus 2015

Masalah Terbesar Anak-anak Sedunia

Anak-anak percaya pada orangtuanya. Lalu apa
yang dipercaya orangtua? Kita percaya sistem otoritas.
Lalu apa standar nilai otoritas?
@noffret


Izabel Laxamana baru berusia 13 tahun, dan dia memutuskan mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Gadis yang tinggal di Tacoma, Seattle, AS, itu terjun dari jembatan ke Interstate 5, jalan raya utama di pantai barat Amerika Serikat, pada 29 Mei 2015. Dia sempat dibawa ke rumah sakit di Seattle, dan meninggal pada 6 Juni 2015. Keputusan bunuh diri itu gara-gara merasa dipermalukan ayahnya lewat video yang diunggah ke YouTube.

Kisah tragis itu diawali niat Izabel yang ingin mendaftar ke organisasi (semacam ekstrakurikuler) di sekolahnya. Ayah Izabel, Jeff Laxamana, tidak mengizinkan. Izabel marah, lalu terjadi cekcok antara ayah dan anak. Hasilnya, Jeff menganggap Izabel membangkang, dan menggunduli rambut Izabel. “Konsekuensi membangkang adalah kau akan kehilangan rambut indahmu!” ujar Jeff pada putrinya.

Tidak cukup hanya menggunduli rambut Izabel, Jeff juga merekam aksi “hukuman” tersebut, dan mengunggah video rekamannya ke YouTube. Izabel merasa dipermalukan—teman-temannya menonton video itu, orang-orang lain melihat video itu, dunia menyaksikan video itu. Tak sanggup menanggung malu, Izabel memutuskan bunuh diri.

Mungkin kematian Izabel sia-sia, tapi aksi bunuh diri yang dilakukannya telah membuka mata dunia bahwa orangtua tidak selamanya benar. Jeff Laxamana, ayah Izabel, mungkin menganggap perbuatan yang ia lakukan pada putrinya adalah hal benar. Sebagai orangtua, dia merasa punya hak untuk memutuskan sesuatu dan menghukum anaknya jika dinilai membangkang. Tapi sejauh mana kebenaran orangtua bisa dianggap benar?

“Anakmu bukan anakmu,” kata Kahlil Gibran. Seberapa banyak orangtua di dunia menyadari kebenaran itu? Disadari atau tidak, sebagian besar orangtua menganggap anak adalah miliknya dalam arti harfiah. Pemahaman semacam itu menjadikan kebanyakan orangtua menatap anaknya sebagai semacam benda mati yang dapat diperlakukan seperti apa pun sesuai kehendak orangtua.

Karena menganggap anak adalah hak milik dalam arti harfiah, kebanyakan orangtua pun merasa bebas menentukan langkah bahkan nasib untuk anak-anaknya. Hal itu pun kemudian dilegitimasi oleh pepatah klise berbunyi, “Tidak ada orangtua yang ingin menjerumuskan anaknya.”

Oh, well, tidak ada orangtua yang ingin menjerumuskan anaknya. Kedengarannya mulia, tapi benarkah memang seperti itu?

Di berbagai media, cetak maupun online, kita sangat mudah menemukan berbagai kejahatan dan kebejatan yang dilakukan orangtua kepada anak-anaknya. Ada orangtua yang melacurkan anaknya. Ada orangtua yang membunuh anaknya. Ada orangtua yang menjual anaknya. Ada orangtua yang mengubur hidup-hidup anaknya. Ada orangtua yang meracuni anaknya. Ada orangtua yang memperkosa anaknya. Daftarnya masih panjang.

Tidak ada orangtua yang ingin menjerumuskan anaknya? Oh, hell, tutup mulutmu, bastard!

Kejahatan-kejahatan yang saya sebut barusan—dari melacurkan anak sampai memperkosa anak—adalah kejahatan yang bisa dilihat dengan gamblang sebagai kejahatan. Sebegitu jelas dan gamblang, hingga idiot mana pun bisa menyadari itu kejahatan. Tapi bagaimana dengan kejahatan-kejahatan terselubung yang dilakukan orangtua terhadap anak-anaknya? Seperti perbuatan yang dilakukan Jeff Laxamana terhadap Izabel, misalnya. 

Diakui atau tidak, di sekitar kita masih banyak orangtua yang menganggap perlakuan buruk terhadap anak sebagai kebenaran, padahal sebenarnya kejahatan. Jeff Laxamana menggunduli rambut putrinya, dan menganggap itu sebagai kebenaran—hukuman orangtua terhadap anak. Tidak cukup menggunduli, dia bahkan merekam aksi itu dan mengunggah video rekamannya ke YouTube, dengan harapan dunia bisa menyaksikan. Apakah Jeff merasa bersalah atas perbuatannya? Tidak!

Begitu pula orangtua-orangtua lain yang melakukan perbuatan tak jauh beda seperti yang dilakukan Jeff. Mereka sama merasa tidak bersalah, karena berpikir yang mereka lakukan adalah hukuman untuk anak yang membangkang. Sebagai orangtua, mereka merasa dan menganggap bahwa titahnya adalah kebenaran yang mereka pikir pasti baik untuk anaknya. Jika si anak menolak atau tak setuju, mereka merasa punya hak prerogatif untuk menganggapnya pembangkangan, dan memberi hukuman. Dan mereka tidak merasa bersalah ketika menjatuhkan atau memberi hukuman apa pun, karena mereka—sebagai orangtua—merasa pasti benar.

Inilah masalah terbesar anak-anak sedunia. Mereka sama-sama menghadapi orangtua yang memiliki pemikiran kolot yang sama—bahwa orangtua pasti benar, dan anak pasti salah. Bahwa anak harus menjaga perasaan orangtua, tapi orangtua tidak perlu menjaga perasaan anaknya. Bahwa anak harus menghormati orangtua, tapi orangtua tidak perlu menghormati anaknya. Bahwa anak harus mengikuti kehendak orangtua, tapi orangtua tidak perlu memikirkan kehendak anaknya. Bahwa anak harus menjadi manusia yang baik, tapi orangtua bebas mau menjadi manusia seperti apa pun. Oh, well!

Sedari kecil, tanpa disadari, kita lebih banyak mendapat ajaran tentang pentingnya menghormati orangtua, tetapi jarang—bahkan tidak pernah—mendengar ajaran pentingnya menghormati anak. Padahal, sebagaimana orangtua, anak juga manusia. Yang sama punya pikiran, perasaan, emosi, kehendak, harga diri, dan kehormatan. Kenapa anak dituntut menjaga perasaan orangtua, sementara orangtua tidak pernah dituntut hal yang sama? Kenapa anak diminta agar menjaga sikap dan perilaku terhadap orangtua, tapi orangtua tidak diminta hal yang sama?

Tidak di Barat tidak di Timur, anak-anak menghadapi masalah yang sama—ketimpangan dalam relasi orangtua dan anak. Padahal, relasi orangtua dan anak adalah relasi antarmanusia, bukan relasi antara manusia dengan benda mati. Dengan kata lain, jika anak dituntut setumpuk aturan tentang memperlakukan orangtua secara layak, maka seharusnya orangtua juga dituntut setumpuk aturan yang sama.

Tetapi itulah masalahnya. Dalam relasi antara orangtua dan anak, dunia telah berlaku tidak adil. Menempatkan posisi orangtua terlalu ke atas, dan menempatkan posisi anak terlalu ke bawah. Realitas itu dijustifikasi oleh kenyataan bahwa orangtua merasa berjasa terhadap anak-anaknya—merekalah yang melahirkan, merekalah yang membesarkan, merekalah yang memberi makan, pendeknya merekalah yang memberi penghidupan.

Tetapi justifikasi itu sebenarnya sangat rapuh. Karena, memangnya siapa yang pernah menuntut setiap orangtua punya anak...?

Tidak ada yang menuntut siapa pun agar punya anak. Di sisi lain, tidak ada anak yang meminta dilahirkan. Orangtua memiliki anak karena memang keinginannya, kehendaknya, pilihannya. Karena memilih dan memutuskan punya anak, maka orangtua punya tanggung jawab terhadap pilihannya. Tanggung jawab itu di antaranya membesarkan, mendidik, dan menghormati anak sesuai porsinya. Ketika si anak mulai beranjak besar, remaja, dan dewasa, orangtua juga punya kewajiban menjaga perasaan, kehormatan, dan harga diri anak.

Hanya karena melahirkan dan membesarkan, orangtua tidak bisa mengungkit-ungkit hal itu sebagai jasanya kepada anak. Karena, sekali lagi, tidak ada anak yang meminta dilahirkan. Setiap anak yang lahir ke dunia adalah pilihan dan kehendak orangtua. Karenanya, tanggung jawab membesarkan dan mendidik memang ada di tangan orangtua, dan orangtua tidak bisa menjadikan hal itu sebagai legitimasi atas perlakuan sewenang-wenang terhadap anak. Pola pikir semacam itu seharusnya telah disadari jauh-jauh hari sebelum siapa pun memilih dan memutuskan untuk punya anak.

Hidup adalah soal pilihan. Punya anak atau tidak adalah soal pilihan. Setiap orang bertanggung jawab atas pilihan yang diambilnya, dan tidak bisa menimpakan tanggung jawab kepada pihak lain, termasuk kepada anaknya. Karenanya, sungguh tidak adil jika kesuksesan anak diklaim sebagai kesuksesan orangtua, sedangkan kegagalan anak dianggap sebagai kegagalan anak semata. Tetapi kenyataan semacam itulah yang terjadi di sekitar kita, di mana-mana, di seluruh dunia.

Ketika anak mendapat prestasi atau keberhasilan, orangtua menepuk dada penuh kebanggaan. Di sisi lain, ketika anak gagal atau mendapat nilai jeblok di sekolah, orangtua memarahi anak, bahkan tidak jarang menghukum mereka. Padahal, sebagaimana anak sukses karena didikan orangtua, anak yang gagal pun karena didikan yang sama. Anak adalah cermin terbaik bagi orangtua untuk berkaca. Seperti apa anaknya, seperti itulah orangtua.

Anak-anak tidak hanya perpaduan darah dan daging orangtua—mereka juga mewarisi gen, tabiat, perilaku, kebiasaan, bahkan kapasitas otak orangtuanya. Karenanya, anak-anak tidak hanya memiliki tampilan fisik yang menyerupai kedua orangtua, tetapi juga memiliki kebiasaan, perilaku, dan kapasitas fisik serta psikis yang juga dimiliki orangtuanya. Dengan kata lain, jika anakmu dinilai nakal dan gagal, koreksi dirimu, bukan malah menghukum dan menista anakmu!

Bagaimana pun, ada anak-anak cerdas yang lahir dari orangtua bodoh, dan ada anak-anak sukses yang lahir dari orangtua miskin. Kenyataan semacam itu terjadi bukan semata karena keajaiban, tetapi sering kali karena kemampuan orangtua mendidik dan membesarkan anak dengan cara yang benar.

“Mendidik dan membesarkan anak dengan cara yang benar” itulah yang menjadi inti paling penting dalam hubungan antara orangtua dan anak, dan setiap orangtua semestinya telah menguasai pengetahuan itu jauh-jauh hari sebelum memutuskan punya anak. Karena anak bukan uji coba atau trial and error dalam laboratarium percobaan. Punya anak adalah pilihan paling penting yang dilakukan setiap manusia, dan pilihan itu menyangkut nasib, kehidupan, serta masa depan manusia lain.

Anak yang mendapat didikan tidak benar dari orangtua mungkin tidak menyadari kesalahan orangtuanya. Tetapi dia akan mewarisi hal itu, dan sering kali akan meneruskan hal yang sama pada anak-anaknya kelak. Begitulah lingkaran setan terjadi. Bagaimana orangtuamu mendidikmu, hampir bisa dipastikan akan sama dengan kakek nenekmu mendidik orangtuamu. Dan kelak, kau pun akan cenderung mendidik anak-anakmu seperti cara didikan orangtua terhadapmu. Pertanyaan besarnya adalah, bagaimana jika didikan yang diwarisi turun temurun itu ternyata keliru?

Jeff Laxamana di Amerika mungkin terbiasa mendapat perilaku kekerasan dan perlakuan memalukan dari orangtuanya. Ketika dia kemudian punya anak, dia pun melakukan hal yang sama pada anaknya. Bedanya, anak Jeff Laxamana memilih bunuh diri daripada menanggung malu. Mungkin kematiannya sia-sia, tapi setidaknya bisa membuka mata dunia, dan menghidupkan kesadaran kita.

Noffret’s Note: Karma

Jauh sebelum Tyson menggigit kuping Holyfield,
sebenarnya Holyfield juga pernah menggigit kuping lawannya.
Kebetulan yang lucu, atau karma?
—Twitter, 30 Mei 2015

Karma atau bukan karma, setiap orang akan menanggung
konsekuensi perbuatannya. Karena sebab dan akibat
memang pasangan paling berbahaya.
—Twitter, 30 Mei 2015

Seseorang menikam lelaki tua hingga sekarat.
Alasannya, si lelaki tua adalah guru yang sering
mem-bully dirinya, lima belas tahun yang lalu.
—Twitter, 30 Mei 2015

“Kau percaya karma?” | “Tentu saja.” |
“Bagaimana kalau karma yang kautunggu tidak juga datang?” |
“Maka aku yang akan mendatangkannya.”
—Twitter, 30 Mei 2015

Orang-orang dewasa menganiaya anak-anak,
tanpa berpikir bahwa kelak mereka akan menua,
sementara anak-anak itu akan dewasa seperti mereka.
—Twitter, 30 Mei 2015

Selalu ada waktunya bunga-bunga tumbuh,
selalu ada masanya daun-daun luruh.
—Twitter, 30 Mei 2015


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

Merdeka dan Seksi

Merdeka adalah bangun tidur, lalu membuat kopi dan merokok, tanpa mandi atau cuci muka... dan tidak ada orang yang ribut atau menegur.

Selalu menyenangkan menikmati kopi dan merokok, sementara muka masih kriyep-kriyep, dan mata masih sepet karena mengantuk.

Setiap kali melakukan itu, aku merasa telah menertawakan aturan dunia. Setiap kali melakukan itu, aku benar-benar merasa merdeka... dan seksi.

Selasa, 04 Agustus 2015

Hakikat Perkawinan

Tantangan terbesar dalam perkawinan
bukan apa pun... tapi pasanganmu sendiri.
@noffret


Di altar yang sunyi, seorang lelaki dan seorang perempuan khusyuk berdoa. Tidak ada suara apa-apa di sana, selain kicau burung-burung yang terdengar dari kejauhan. Di langit, sesekali petir menggelegar, menciptakan retak-retak seperti mata yang ingin menangis. Lelaki dan perempuan di sana tidak saling kenal—keduanya dipertemukan dalam rahasia doa yang sama, di waktu yang sama, di altar yang sama.

Seorang filsuf yang kebetulan lewat melihat mereka, lalu mendekati kedua anak manusia itu dengan langkah-langkah ringan.

“Anak-anakku,” ujar sang Filsuf. “Kalian tampak khusyuk sekali berdoa, hingga langit retak dan hampir menangis. Apa yang kalian harapkan?”

Lelaki dan perempuan di sana menengadahkan wajah pada filsuf yang kini berdiri di hadapan mereka—seperti baru menyadari udara mulai dingin, dan gerimis tampak akan turun.

“Tuan Filsuf,” ujar si Lelaki. “Saya berdoa di altar ini, karena mengharapkan pasangan yang sempurna. Sebagai lelaki, saya merindukan perkawinan dengan seorang perempuan sempurna, sosok yang akan membuat saya jatuh cinta selamanya.”

Sang Filsuf mengangguk, kemudian berpaling pada si Perempuan. “Dan kau, Nak? Apa yang kauharapkan?”

“Saya pun berdoa untuk tujuan yang sama, Tuan Filsuf,” sahut si Perempuan. “Dalam hati yang saya rahasiakan, saya merindukan perkawinan dengan pasangan yang sempurna, sosok lelaki yang akan membuat saya jatuh cinta selamanya.”

Sang Filsuf kemudian berkata perlahan-lahan, “Ada lelaki-lelaki sempurna, dan ada perempuan-perempuan sempurna. Di dunia ini, ada lelaki-lelaki yang memiliki rupa menawan, memiliki kecerdasan dan kebijaksanaan luar biasa, bahkan dilengkapi kekayaan yang membuatnya mampu mewujudkan apa pun.” Kemudian, sang Filsuf berpaling pada si Perempuan, “Apakah lelaki semacam itu sempurna, menurutmu?”

Si Perempuan mengangguk. “Itulah lelaki yang sempurna—lelaki yang saya inginkan menikah dengan saya!”

“Di dunia ini juga ada perempuan-perempuan sempurna,” lanjut sang Filsuf, kali ini menatap si lelaki. “Mereka memiliki kesegaran dan kecantikan yang mampu membuat bunga-bunga cemburu—sebentuk kecantikan yang tidak hanya terlihat secara fisik, tapi juga kecantikan yang tersimpan di hati dan pikiran. Mereka jenis perempuan yang memilih keluar dari Surga, dan menjadi bidadari di muka Bumi. Apakah perempuan semacam itu sempurna, menurutmu?”

Si Lelaki segera mengangguk. “Tidak ada perempuan yang lebih sempurna dari itu, Tuan Filsuf,” ujar si Lelaki. “Itulah perempuan yang saya rindukan menjadi pasangan saya dalam perkawinan.”

“Masalahnya, Nak,” lanjut sang Filsuf, “lelaki-lelaki dan perempuan-perempuan sempurna semacam itu tidak menginginkan perkawinan. Jadi umpama kalian berhasil menemukan, kalian tidak akan bisa menikah dengan mereka.”

Hening.

Langit kembali retak seiring petir menggelegar, sementara nyanyian burung-burung masih terdengar dari jauh. Altar makin sunyi.

Sambil menatap keduanya, sang Filsuf berkata perlahan-lahan, “Ribuan tahun yang lalu, jauh sebelum kalian lahir, manusia belum bisa dibilang beradab. Tetapi bahkan jauh sebelum mengenal peradaban, mereka telah menyadari hakikat ketidaksempurnaan. Sebagai manusia. Sebagai makhluk fana. Ribuan tahun lalu, lelaki-lelaki yang akan menikah harus menempa besi dengan sangat berat, menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Sementara wanita-wanita yang telah menikah akan dikalungi rantai besar—di lehernya, di tangannya, bahkan di kakinya—sebagai tanda telah memiliki pasangan. Rantai yang besar itu sangat berat, karena kadang dibanduli batu bertulis nama pasangannya, tetapi wanita-wanita leluhur kita mau menerima, bersuka cita atas belenggu itu. Bahkan, mereka menganggap rantai-rantai berat yang membelenggu tubuh dan kebebasannya sebagai penghargaan yang layak disyukuri.”

“Beribu-ribu tahun kemudian,” lanjut sang Filsuf, “seiring peradaban manusia yang semakin baik, leluhur kita mulai mengubah rantai-rantai dan belenggu yang besar dan berat menjadi benda-benda yang lebih layak, bahkan lebih manis. Jika semula rantainya dibuat dari besi, kini dibuat dari emas. Jika semula bandulnya menggunakan batu, kini diubah menjadi permata. Ukurannya pun diperkecil berkali-kali lipat, hingga wanita-wanita yang memakainya tidak lagi kepayahan. Maka kita pun mengenal cincin perkawinan, gelang, kalung—sebut apa pun—yang ditempa bertahun-tahun oleh para lelaki dengan keringat dan darah mereka. Tujuannya sama, intinya sama, hakikatnya sama, meski bentuknya telah jauh berbeda. Dan, seperti ribuan tahun lalu, wanita-wanita yang hidup di masa kini pun bahagia mendapatkan rantai-rantai dan belenggu itu, bahkan menganggapnya berkat yang layak disyukuri.”

Hening. Hening. Hening.

Suara burung mendekat—kicauannya terdengar jelas. Di atas dahan pohon, dua ekor burung hinggap, seperti ingin menatap mereka, ingin mendengar suara sang filsuf, ingin menyaksikan kegalauan anak-anak manusia.

“Mengapa ada wanita-wanita yang merelakan kebebasannya dibelenggu,” ujar sang Filsuf kemudian, “dan mengapa ada lelaki-lelaki yang mau meluangkan banyak waktu untuk menempa rantai-rantai besar demi wanita yang dicintai? Karena mereka menyadari ketidaksempurnaan—mereka menyadari diri mereka tidak sempurna, sehingga membutuhkan orang lain, membutuhkan pasangan, membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya dalam kata dan dalam diam.”

“Sejak ribuan tahun lalu,” lanjut sang Filsuf, “hanya orang-orang tak sempurna yang mau mengikatkan diri dalam perkawinan. Karenanya, para leluhur kita pun menyadari bahwa mereka hanya akan bisa menikah dengan pasangan yang tidak sempurna—orang yang sama tidak sempurna seperti dirinya. Karena hanya orang-orang tidak sempurna yang membutuhkan orang lain, yang mau memberikan dirinya untuk pasangan, yang mau merelakan kebebasannya dibelenggu, yang mau menyerahkan tubuh, hati, dan pikirannya untuk ikatan bernama perkawinan. Utopia adalah mengharapkan pasangan sempurna yang mau menikah dengan kita—oh, well, itu bahkan utopia di atas utopia di atas utopia—karena hanya orang-orang tak sempurna yang mau menikah, hanya orang-orang tak sempurna yang tertarik pada perkawinan. Karenanya, seperti yang kukatakan tadi, kalian mungkin bisa menemukan sosok yang sempurna—tapi kalian hanya akan bisa mengagumi, tanpa bisa memiliki—karena orang-orang sempurna semacam itu tidak tertarik pada perkawinan.”

Sunyi. Sunyi. Sunyi.

Dua burung yang hinggap di atas dahan tampak berpandangan, seperti sedang membisikkan rahasia yang hanya bisa didengar dan dipahami alam semesta.

“Hakikat perkawinan,” ujar sang Filsuf, “adalah menyadari ketidaksempurnaan kita, dan belajar menerima ketidaksempurnaan pasangan kita. Tanpa hakikat semacam itu, tidak mungkin ada dua orang dengan kepala, hati, pikiran, dan latar belakang berbeda, bisa disatukan di bawah atap yang sama. Tanpa hakikat semacam itu, tidak mungkin ada manusia yang merelakan kebebasannya dibelenggu orang lain. Tanpa hakikat semacam itu, tidak mungkin ada manusia yang mau bersusah payah demi membahagiakan orang yang dicintai. Tanpa hakikat semacam itu, manusia hanyalah mitos yang terkubur dalam legenda.”

“Manusia adalah wujud ketidaksempurnaan,” lanjut sang Filsuf, “dan dalam kesadaran ketidaksempurnaan itulah, mereka membutuhkan perkawinan. Untuk melengkapi yang kurang, menutup yang terbuka, meredakan tangis dan luka. Hanya orang-orang tak sempurna yang mau menikah, Nak, karenanya sia-sia jika kalian berharap mendapat pasangan sempurna. Yang bisa kalian harapkan hanyalah pasangan yang terbaik—terbaik di mata kalian, terbaik di pikiran kalian, terbaik di hati kalian—hingga bisa menjadi yang terbaik dalam hidup kalian. Tetapi, bagaimana pun, pasangan kalian tidak akan sempurna, sebagaimana diri kalian yang juga tidak sempurna. Sekali kalian menginginkan perkawinan, itu bukti yang menunjukkan bahwa kalian tidak sempurna. Dan hanya di dalam perkawinan, dua orang yang menyadari diri mereka tidak sempurna bisa memperbaiki diri sambil saling menyempurnakan.”

Petir kembali menggelegar, rintik gerimis mulai turun. Dua burung di atas dahan bersiap pergi, keheningan mulai tersapu angin.

“Jadi, Tuan Filsuf,” ujar si Lelaki tiba-tiba, saat menyadari sang Filsuf akan pergi dari hadapan mereka, “bagaimana seharusnya kami menikah?”

“Menikahlah seperti gerimis,” jawab sang Filsuf, “dengan kesadaran hujan lebat akan turun sewaktu-waktu, bersama petir dan halilintar menggelegar, kadang bersama badai yang mengguncang akar dan pepohonan. Seusai badai berlalu, selalu ada mentari yang bersinar. Dan setelah hujan lebat mengguyur, selalu tercium wangi tanah yang membuatmu mendengar kerinduan.”

Gerimis semakin lebat, dan hujan turun dari langit.

Burung-burung berteduh di rerimbunan. Langit sesekali bercahaya, seiring petir bersahutan dengan halilintar. Air membasahi tanah, dan tanah menyiapkan keharuman petrichor. Putik-putik mulai bersemi, kelopaknya merekah, dan bunga-bunga bersiap mekar.

Sang filsuf pergi.

Dua anak manusia beranjak dari tempatnya, meninggalkan altar sesunyi semula.

Farghob adalah Farghob

Oh, oh.

Sibghoh adalah Sibghoh

Hmm... hmm....

Filsafat Langit

“Apa pun yang kaucintai, akan mencintaimu.” Hukum itu benar, asal yang “kaucintai” bukan makhluk hidup. Lebih spesifik, bukan manusia.
—Twitter, 14 April 2015

Lelaki akan tahu siapa wanita yang dicintainya, hanya setelah dia menikahi si wanita. Sebelum itu, dia buta.
—Twitter, 14 April 2015

Sembilan dari sepuluh atau bahkan sepuluh dari sepuluh orang yang membaca tweet sebelumnya akan salah sangka.
—Twitter, 14 April 2015


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Tantangan untuk Para Penulis

Aku menulis untuk alasan yang sama dengan mengapa aku bernapas;
jika aku tidak melakukannya, aku akan mati.
Isaac Asimov


Dulu, ketika era teenlit (teen literature) sedang naik daun, tak terhitung banyaknya novel-novel teenlit menyerbu toko-toko buku. Hampir di toko buku mana pun selalu ada novel teenlit. Bahkan, orang-orang yang semula tidak kenal atau kurang akrab dengan buku, mulai coba-coba baca buku karena kehebohan teenlit. Hal tak jauh beda terjadi pada beberapa teman saya. Mereka yang semula asing dengan buku mulai mencoba membaca buku, gara-gara penasaran dengan teenlit.

Rata-rata, novel teenlit memiliki alur dan plot yang sama—mengalir lancar, mudah dipahami, tanpa alur rumit dan plot berbelit. Karena novel genre itu memang ditujukan untuk remaja, namanya juga teen literature. Bahkan, pada sebagian besar novel teenlit, jalan ceritanya bisa dibilang mirip kisah keseharian, tentang cowok yang naksir cewek, atau sebaliknya, lalu kisah berjalan lancar, diiringi dialog-dialog yang cair, hingga berakhir happy ending. 

Beberapa novel teenlit ada yang bisa dikategorikan sangat bagus. Meski sama ditujukan untuk remaja, dan isinya juga tak jauh dari keseharian remaja, novel-novel teenlit yang bagus memiliki alur dan plot yang lebih baik, meski tetap lancar, dengan aneka twist tak terduga. Novel-novel teenlit bagus biasanya ditulis penulis berpengalaman, atau bisa pula ditulis penulis pemula yang memang berbakat. Sementara novel-novel teenlit yang ditulis rata-rata pemula memiliki kualitas biasa—tidak bisa dianggap bagus, meski juga tak bisa dibilang buruk.

Ada cukup banyak teman saya yang membaca novel teenlit, dan kadang mereka berkomentar, “Kalau cuma nulis kayak gini, aku juga bisa!”

Komentar itu muncul karena jalan cerita novel teenlit yang mungkin dianggap mengalir dan mudah dipahami, serta lekat dengan keseharian. Karenanya, mereka pun menganggap menulis novel teenlit bukan hal sulit. Ketika mendengar komentar semacam itu, saya biasanya tersenyum, dan menyahut, “Kalau kamu memang bisa menulis novel kayak gitu, cobalah tulis. Setelah naskah novelmu selesai, aku akan tahu apakah naskahmu layak terbit atau tidak. Kalau memang layak terbit, nanti aku bantu mengurus penerbitannya.”

Sebagian dari mereka tertarik, dan mulai menulis. Tetapi, sampai berbulan-bulan kemudian, tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil menyelesaikan naskahnya! Pernah ada satu orang yang berhasil menyelesaikan naskah, setelah menghabiskan waktu sekitar tujuh bulan, tapi dia malu menunjukkannya kepada saya, karena menurutnya naskah karyanya sangat buruk. Sebegitu buruk, sampai dia lebih memilih untuk tidak menunjukkan.

Apa moral cerita ini?

Well, menulis mungkin memang mudah. Tapi tidak “semudah itu”.

Ketika membaca suatu buku, fiksi atau nonfiksi, dan menikmati isinya yang mengalir lancar serta mudah dipahami, sebagian orang yang bukan penulis mungkin berpikir, “Mudah sekali menulis buku seperti ini.” Tetapi, ketika diminta menulis buku semacam itu, kita baru menyadari betapa sulit menulisnya. Sesuatu yang tampak mudah dilakukan ternyata membutuhkan ketekunan dan kerja keras luar biasa!

Itulah salah satu penyakit calon penulis—menganggap remeh atau menilai mudah pekerjaan menulis, atau menggampangkan pekerjaan menulis. Faktanya, jika sebuah buku sampai ke tangan kita—atau sampai di rak toko buku—artinya buku itu dinilai layak terbit oleh penerbitnya. Pertimbangan layak terbit adalah pertimbangan “hidup matinya” penerbit, suatu pertimbangan yang tidak main-main. Dan untuk dapat menulis naskah yang layak terbit, percayalah... tidak setiap orang bisa.

Setiap hari, penerbit-penerbit di negeri ini menerima, membaca, dan mempelajari ribuan naskah yang masuk. Setiap hari, ada banyak naskah yang terbit menjadi buku, tapi lebih banyak naskah yang ditolak! Ada ribuan orang yang pernah mencoba menulis, mengirimkan naskah ke penerbit, berharap karyanya bisa terbit menjadi buku, tapi berakhir dengan penolakan. Kadang mendapat penolakan satu kali, kadang dua kali, kadang sampai puluhan kali. Sebagian mereka terus berusaha, sebagian lain tumbang dan menyerah.

Menulis mungkin memang mudah. Tapi tidak “semudah itu”. Karena ada perbedaan antara “asal menulis” dan “menulis secara profesional”. Menulis asal-asalan mungkin memang mudah, dan siapa pun bisa melakukan. Tapi menulis secara profesional, dalam arti suatu tulisan memiliki nilai sehingga layak terbit dan layak jual, bukanlah pekerjaan gampang. Tak jauh beda dengan pekerjaan profesional lain, menulis secara profesional juga membutuhkan pengetahuan.

Seperti aktivitas menyanyi, misalnya. Setiap orang bisa menyanyi, sebagian dari kita bahkan bisa menyanyi dengan baik. Tapi apakah kemudian setiap orang bisa masuk dapur rekaman dan membuat album? Tentu saja tidak! Untuk setiap satu demo rekaman yang menjadi album dan beredar di pasar, ada ratusan demo rekaman yang ditolak! Kalau kita punya teman anak band, tanyakan pada mereka tentang hal itu, dan mereka akan menjelaskan betapa sulit menembus dapur rekaman, padahal mereka memiliki skill hebat, lagu-lagu hebat, dan penampilan hebat.

Kangen Band bisa dijadikan contoh untuk kasus ini. Ketika Kangen Band muncul, banyak orang mencibir, mengolok-olok, bahkan merendahkan. Bukan hanya lagu-lagu Kangen Band yang menjadi sasaran olok-olok, tapi bahkan vokalisnya, karena tampilannya dinilai “tidak layak terbit”. Anak-anak band yang merasa memiliki skill lebih baik sering bilang, “Bagaimana bisa band seperti ini menghasilkan album?”

Tapi nyatanya Kangen Band menghasilkan album, dan album mereka terjual dalam jumlah besar, serta memiliki penggemar fanatik yang tak kalah besar. Omong-omong, saya bukan penggemar mereka! Tetapi fakta bahwa mereka berhasil menembus dapur rekaman, karena produser telah menilai dan mempertimbangkan hal-hal itu. Kangen Band, dengan segala kekurangan yang mungkin mereka miliki, dinilai mempunyai sesuatu yang unik dan bisa dijual. Fakta itulah yang memungkinkan mereka menembus dapur rekaman, dan menghasilkan album.

Jangankan band dengan kualitas biasa, bahkan band dengan kualitas luar biasa pun sering kesulitan menghasilkan album. Pada Juli 2002, misalnya, muncul album kompilasi yang mengumpulkan 10 band yang dinilai memiliki kualitas hebat. Sepuluh band itu adalah Peterpan, Quarto, Benua, Second Egg, Tulip, Ha I Pe, Two One, Gelas, Strip Band, dan Puber. Masing-masing band diminta membuat single khusus untuk album kompilasi tersebut, yang lalu dirilis dengan titel “Kisah 2002 Malam”.

Album kompilasi itu beredar di pasar, dan seleksi alam mulai terjadi. Stasiun-stasiun radio di seluruh Indonesia dipantau, untuk melihat single band mana yang paling sering di-request pendengar. Hasilnya, dari sepuluh band hebat yang dikumpulkan dalam album kompilasi itu, Peterpan—dengan single “Sahabat”—dinilai paling unggul. Karena kenyataan itu, Peterpan pulalah satu-satunya band yang kemudian membuat album. Satu tahun kemudian, pada 2003, Musica Studio’s merilis album pertama mereka, dengan titel “Taman Langit”. Dan, sejak itu, Indonesia mulai mengenal Ariel Peterpan.

Kita lihat, bahkan band-band yang dinilai hebat pun masih kesulitan untuk eksis. Mereka telah berhasil masuk dapur rekaman, dengan memulai debut lewat album kompilasi. Tetapi, setelah berhasil menembus dapur rekaman, mereka masih harus menghadapi seleksi alam. Dalam seleksi hukum alam, hanya yang benar-benar unggul yang akan tetap eksis. Faktanya, sembilan band yang pernah tergabung dalam album kompilasi itu sekarang tak jelas kabarnya, sementara Peterpan—yang sekarang bermetamorfosis menjadi Noah—makin eksis.

Hal tak jauh beda terjadi di dunia penerbitan. Tantangan setiap penulis dan calon penulis bukan hanya menghasilkan naskah yang bagus dan layak terbit, bukan hanya menembus dapur penerbitan, tapi juga menghadapi seleksi alam. Untuk hal terakhir itulah yang paling sulit. Menghasilkan naskah yang bagus mungkin bisa dipelajari dengan pembelajaran yang tekun, menembus dapur penerbitan juga bisa dilakukan dengan menulis naskah yang bagus serta layak terbit. Tapi menghadapi seleksi alam... itulah yang paling sulit, karena ada banyak hal yang tak bisa diprediksi, dan selalu ada anomali.

Di Indonesia, misalnya, ada ribuan penulis—jika definisi “penulis” adalah orang yang pernah menulis secara profesional. Tetapi berapa banyakkah yang eksis? Berapa banyak yang masih terus menghasilkan karya? Berapa banyak yang masih terus menulis dan menerbitkan buku? Dan... berapa banyak yang sekarang menghilang tanpa kabar? Yang menghilang hampir bisa dipastikan jauh lebih banyak daripada yang terus berkarya.

Mereka yang menghilang bisa disebabkan berbagai alasan—karena kesibukan di luar aktivitas menulis, karena bosan, karena kehabisan ide, atau bisa pula karena buku-bukunya tak laku sehingga berpikir untuk beralih profesi.

Menulis mungkin memang mudah. Tapi tidak “semudah itu”. Menjadi penulis mungkin juga tampak mudah. Tetapi, sebenarnya, juga tidak “semudah itu”.

 
;