Sabtu, 02 Maret 2019

Kembali ke Twitter dan Sedikit Curhat

Akhirnya bisa masuk ke sini lagi.
@noffret


Setelah sekitar setengah bulan tidak bisa mengakses Twitter karena akun dibatasi, akhirnya saya bisa kembali masuk Twitter dan mengakses akun saya kembali pada 18 Februari kemarin. Senang rasanya bisa kembali menikmati timeline dan mendapati banyak hal seperti biasa, termasuk cekikikan sendiri saat mendapati humor-humor yang bertebaran.

Humor ala Twitter adalah salah satu hal yang membuat saya merasa perlu masuk Twitter. Karena humor-humor para pengguna Twitter biasanya tak terduga, nyeleneh, sinting, absurd, dan sering membuat saya cekikikan. Itu hiburan segar yang mampu mengendurkan kembali syaraf tegang.

Biasanya, saat mendapati suatu humor di timeline, saya akan membuka bagian mention/komentar dari para pengguna Twitter lain. Karena komentar yang bertebaran di sana biasanya juga mengandung kelucuan, meski jika penulisnya tidak bermaksud melucu, dan saya sering cekikikan sendiri saat membacanya.

Selain menikmati humor yang kerap muncul, Twitter juga memungkinkan saya memahami berbagai pikiran orang lain, serta cara mereka berpikir. Itu, bagi saya, semacam pembelajaran yang tidak bisa saya dapatkan di tempat lain.

Kalau banyak orang berkumpul di dunia nyata, biasanya hanya satu dua orang yang berbicara, dan yang lain mendengarkan. Karenanya, kita hanya akan mendengar dari satu dua orang itu saja, karena yang lain diam. Jika banyak orang berkumpul itu sama-sama berbicara, kita justru tidak akan bisa mendengar apa-apa, karena suasana pasti akan sangat bising dan kacau.

Hal semacam itu tidak terjadi di Twitter. Meski semua orang berbicara bersamaan—yang lalu muncul di timeline—kita tetap bisa menikmati satu per satu yang mereka katakan, dan tidak merasa terganggu karena bising atau suasana yang kacau. Twitter memungkinkan kita mendengarkan suara banyak orang di waktu bersamaan, dengan tenang, terlepas apa pun yang mereka ocehkan.

Saya tidak tahu apa motivasi orang-orang lain dalam mem-follow suatu akun. Namun, saya mem-follow suatu akun di Twitter biasanya karena unik, atau karena keunikan pribadi. Yang namanya “unik” tentu bisa macam-macam, dari lucu, serius, berwawasan, bermanfaat, sampai absurd. Suka-suka mereka, lah. Selama mereka tetap menjadi diri sendiri—seabsurd apa pun—saya juga suka-suka aja.

Well, soal upaya peretasan akun yang terjadi tempo hari. Saya sempat berpikir, kenapa ada orang sampai repot-repot berusaha meretas akun Twitter saya?

Di Twitter, akun saya sama sekali bukan akun penting apalagi berpengaruh. Kalau pun bisa menguasai akun itu melalui peretasan—buat apa? Di Twitter, saya juga nyaris tidak pernah ribut soal politik atau terjun dalam kancah peperangan “cebong” dan “kampret”. Jadi, kalau pun bisa menguasai akun saya melalui peretasan, sekali lagi buat apa? Di Twitter, saya bahkan sangat jarang berkomunikasi dengan orang lain, wong saya lebih suka ngoceh sendiri. Jadi, apa kira-kira motivasi orang sampai repot-repot berusaha meretas akun Twitter saya?

Seorang teman mengatakan, “Mungkin ada orang yang penasaran ingin melihat interaksi DM (Direct Message) kamu di Twitter.”

Itu kemungkinan yang sebelumnya tak sempat saya pikirkan. Meski kemungkinan itu terdengar absurd, tapi sepertinya bisa menjadi kemungkinan paling logis kenapa ada orang sampai berusaha meretas akun Twitter saya. Ya, bisa jadi ada keparat kurang kerjaan yang mungkin berpikir, “Kira-kira bocah ini nyepik siapa saja lewat DM?”

Kalau memang itu tujuan si keparat-entah-siapa mencoba meretas akun Twitter saya, sekarang biar saya ceritakan saja—agar dia tidak perlu repot-repot berusaha menjebol akun saya.

Dulu, sekian tahun yang lalu, saya memang pernah terpikir memanfaatkan DM di Twitter untuk berkomunikasi dengan seorang wanita yang membuat saya tertarik.

Saya hanya mengenalnya lewat dunia maya, dan dulu kami juga sempat saling berinteraksi lewat mention. Namanya orang tertarik, saya ingin lebih akrab dengannya, dan saya terpikir untuk berkomunikasi lewat DM karena lebih privat. And you know what? Saya tidak tahu bagaimana caranya!

Bukan, saya bukan tidak tahu cara menggunakan DM di Twitter. Yang saya maksud, saya tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi dengannya, agar kami lebih akrab dan dekat! Dan sampai kini, yang artinya setelah bertahun-tahun kemudian, di antara kami tetap tidak ada apa-apa!

Kalian yang biasa membaca blog ini, dan mendapati saya biasa ngoceh panjang lebar tentang apa saja, mungkin berpikir kalau saya bisa enjoy berkomunikasi dengan siapa pun. Salah! Faktanya, saya sering kesulitan (mungkin lebih tepat disebut kebingungan) saat harus berkomunikasi dengan orang lain, khususnya orang yang tidak/kurang dikenal, khususnya lagi orang yang tidak/kurang komunikatif.

Di Twitter, konon ada cowok-cowok yang bisa enjoy ngirim DM ke cewek, berisi ajakan ngewe. Kenyataan itu sering terungkap, karena ada cewek-cewek yang meng-capture isi DM mereka. Lha saya? Boro-boro ngajak ngewe, sekadar menyapa “hai” saja sudah membuat saya kebingungan.

Setiap kali ingin menyapa seseorang—khususnya di Twitter—saya biasanya harus melakukan persiapan sampai lama, dan memastikan dia benar-benar orang ramah yang tidak akan terganggu dengan sapaan saya. Jika dalam hal itu saya merasa ragu, saya memilih untuk tidak menyapa sama sekali, meski jika sebenarnya ada hal sangat penting yang ingin saya katakan/tanyakan kepadanya.

Hal semacam itu saya alami saat ingin menyapa siapa saja, baik sesama pria maupun wanita. Kalau sekadar menyapa layaknya manusia normal saja saya sering kebingungan, apalagi saat ingin menyapa seseorang yang—katakanlah—membuat saya naksir? Wong tidak punya perasaan apa pun saja, saya sudah kebingungan. Apalagi kalau harus menyapa seseorang, sementara saya punya “perasaan khusus” kepadanya? 

Bayangkan adegan ini. Umpama—sekali lagi, umpama—saya menyapa “hai” pada seorang wanita, dan dia membalas “hai”, sampai di situ saya akan bingung, bagaimana meneruskannya? Saya kan tidak mungkin tiba-tiba bertanya kepadanya, “Apakah kamu percaya bahwa sebenarnya ada semesta lain di luar semesta kita, dan ada makhluk mirip kita di semesta lain itu?”

Bisa-bisa dia menganggap saya tidak waras. Ya meski sebenarnya saya mungkin memang tidak waras, sih.

Latar belakang itulah yang menjadikan saya tidak/kurang komunikatif di Twitter, karena memang tidak bisa atau sering kebingungan saat ingin berkomunikasi dengan siapa pun. Dalam hal ini, yang bisa saya lakukan hanya membalas/menjawab mention orang lain dengan baik, khususnya jika mention itu bukan basa-basi tidak jelas atau hal-hal yang mestinya tidak perlu dibahas.

Berdasarkan curhat tidak penting ini, kalian bisa mengira isi DM saya? Ya, benar sekali, di boks DM saya tidak ada apa-apa, selain hanya komunikasi biasa dengan beberapa orang.

Jadi, buat keparat-kurang-kerjaan yang mungkin penasaran ingin tahu isi DM saya di Twitter, jauh lebih baik gunakan waktumu untuk hal-hal yang bermanfaat, daripada repot-repot berusaha meretas akun Twitter saya. Karena bahkan umpama kau berhasil, tetap saja usahamu akan sia-sia.

 
;