Minggu, 01 Februari 2026

Kembali Membaca Buku

Salah satu kenikmatan hidup saya adalah membaca buku. Itu kenikmatan yang telah saya kenali sejak masa kecil, dan tak bisa saya tinggalkan hingga kini. Saat membuka buku, lalu membacanya lembar demi lembar, saya merasakan kenikmatan yang tidak dapat saya peroleh dari hal lain. Fiksi maupun nonfiksi, sama-sama menyenangkan bagi saya. Selain menambah ilmu dan pengetahuan, membaca buku juga sarana hiburan yang sehat—setidaknya menurut saya.

Membaca buku bisa dilakukan dengan sangat mudah. Cukup siapkan buku, duduk dengan tenang, lalu membacanya. Aktivitas membaca buku tidak mengeluarkan suara, jadi tidak mengganggu telinga orang lain. Apalagi kalau kamu tinggal sendirian di rumah, seperti yang saya alami, membaca buku serupa memasuki alam keheningan. Tidak ada apa-apa, tidak ada siapa-siapa, hanya ada kamu dan buku. Tanpa ribut-ribut, tanpa suara.

Sejak bertahun lalu, saya punya jadwal khusus terkait membaca buku. Saban hari, setiap pagi, sambil menikmati teh hangat dan udud, saya selalu meluangkan waktu 2 sampai 3 jam untuk membaca buku. Setelah itu, saya baru menyalakan komputer untuk bekerja. Tengah hari, usai makan siang, saya kembali membaca buku sekitar 2 jam, lalu kembali bekerja sampai sore. Setelah pekerjaan selesai sore hari, saya beres-beres rumah—misal mencuci piring atau gelas kotor—lalu kembali membaca buku sampai malam. Biasanya saya baru berhenti setelah mengantuk, lalu tidur. 

Jadwal yang mirip ritual itu saya lakukan dengan disiplin selama bertahun-tahun, dan dengan kedisiplinan semacam itulah saya bisa mengkhatamkan ribuan buku, tahun demi tahun. Dulu, setiap akhir tahun, saya bahkan selalu memosting daftar buku terbaik di blog ini, yang berisi 10 buku yang saya anggap terbaik di antara banyak buku yang saya baca dalam setahun. 

Belakangan, jadwal membaca buku itu “rusak” setelah e-book atau buku elektronik makin populer, dan saya pun mengikuti perkembangan zaman tersebut. Artinya, saya tidak lagi membaca buku dalam bentuk kertas, tapi juga membaca buku dalam bentuk e-book yang dibaca di komputer. 

Kemunculan e-book sebenarnya membantu para pembaca buku seperti saya. Dengan e-book, kita tidak lagi butuh rak atau tempat khusus untuk menyimpan buku, karena e-book hanya berupa file yang dapat disimpan dengan mudah di komputer. 

Saat ini, di rumah saya ada ribuan buku yang tertumpuk di rak, dan di dalam banyak kardus karena kehabisan rak. Seiring waktu, jumlah buku itu tentu akan terus bertambah, karena saya masih terus membaca. Artinya, tumpukan buku itu akan semakin banyak, dan saya makin bingung bagaimana menyimpannya.  

Masalah semacam itu terbantu oleh e-book. Di komputer saya saat ini ada puluhan ribu e-book. Andai puluhan ribu file itu berupa buku cetak, saat ini rumah saya mungkin sudah “tenggelam” oleh buku. Jadi, seperti yang disebut tadi, keberadaan e-book membantu para pembaca buku seperti saya. Karena bisa terus membaca buku, tanpa harus dipusingkan bagaimana cara menyimpannya.

Sayangnya, kemunculan e-book juga “mengacaukan” jadwal harian saya. Karena e-book harus dibaca di komputer, rutinitas saya pun terpaksa berubah. Jika sebelumnya baru menyalakan komputer setelah agak siang—karena saya biasa membaca buku di pagi hari—sekarang saya sudah menyalakan komputer sejak pagi hari. Tujuannya sama, untuk membaca buku, tapi kali ini di komputer. 

Lama-lama, mungkin karena kebiasaan, saya nyaman membaca buku (e-book) di komputer. Artinya, sejak pagi sampai malam, saya terus berada di depan komputer. Setengah untuk kerja, setengahnya lagi untuk membaca buku yang memang ada di komputer. Kebiasaan baru itu kemudian saya jalani beberapa tahun terakhir, bahkan sampai sekarang. 

Tempo hari, saat bersih-bersih rumah dan menata buku-buku yang berserakan di rumah—seperti yang saya tulis di sini—saya mendapati buku-buku lama yang membuat saya kangen ingin membacanya kembali. Ada pula buku-buku yang belum sempat saya baca, padahal sudah saya beli sejak lama. Karenanya, sambil menata buku-buku tempo hari, saya juga menyisihkan buku demi buku yang akan saya baca. Setelah urusan menata buku itu selesai, buku-buku yang saya sisihkan sudah setinggi tiga meter—jumlahnya sekitar 200-an buku.

Ada 200-an buku yang akan saya baca, atau baca ulang, dan saya telah memulainya sejak akhir tahun kemarin. Karenanya, update blog tempo hari juga agak telat, sebab saya “kelupaan” gara-gara keasyikan membaca buku. Ada kemungkinan, update blog untuk beberapa waktu ke depan juga tidak akan tepat waktu seperti sebelumnya, karena sekarang saya baru menyalakan komputer setelah puas membaca buku. Tapi yang jelas, saya akan berusaha meng-update blog ini secara rutin—meski waktunya tidak pasti.

So, sekarang saya kembali membaca buku, dalam arti sebenarnya. Yaitu duduk dan memegang buku dalam bentuk kertas. Rasanya seperti me-restart diri saya sendiri untuk kembali pada kebiasaan lama. 

Mungkin karena sudah beberapa tahun membaca buku di komputer, saya sempat merasa “aneh” saat kembali membaca buku dalam bentuk kertas. Untungnya, saya punya dasar kebiasaan membaca buku kertas sebelumnya. Jadi, ketika kembali membaca buku dalam bentuk kertas, saya tidak terlalu kesulitan, karena rasanya seperti “memanggil” kebiasaan lama untuk aktif kembali.

Di titik itu, saya agak tersadar pada sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan, terkait kebiasaan membaca buku. 

Anak-anak yang tumbuh di era ‘90-an—seperti saya—belum kenal e-book ketika memulai kebiasaan membaca buku. Jadi mau tak mau harus membaca buku berbahan kertas. Karenanya, pada masa itu, para kutubuku bisa seharian khusyuk memegangi buku, tanpa banyak distraksi. Karena belum ada smartphone, belum ada media sosial, belum ada Netflix atau aneka jenis distraksi lainnya.

Sementara anak-anak yang tumbuh di era sekarang sudah akrab dengan smartphone, dengan laptop atau komputer, bahkan internet sudah jadi barang kebutuhan sehari-hari. Karenanya, saya pikir membentuk kebiasaan membaca buku saat ini mungkin lebih sulit daripada di era saya. Apalagi jika harus membaca buku berbahan kertas. Karena bahkan saya sendiri, yang telah sejak kecil membaca buku berbentuk kertas, belakangan merasa “aneh” ketika kembali membaca buku berbahan kertas setelah lama menikmati membaca buku di komputer, dan merasa seperti membentuk kebiasaan baru lagi.

Saya tidak tahu pemikiran saya ini benar atau tidak, dan semoga saja tidak benar. Karena bagaimana pun saya berharap generasi sekarang juga senang membaca buku, dan akrab dengan buku, semudah generasi di era saya. Terlepas apakah mereka membaca buku dalam bentuk e-book atau buku berbahan kertas, itu cuma soal pilihan, atau selera. Intinya tetap membaca buku.

Dan sekarang, seperti yang disebut tadi, saya kembali membaca buku berbahan kertas. Rasanya memang seperti membentuk kebiasaan baru, tapi itu kebiasaan yang menyenangkan. Saya pernah punya kebiasaan itu; duduk santai, memegangi buku, membuka halaman per halaman, membaca isinya, dan terpesona pada kisah atau aneka pengetahuan yang saya dapatkan dari lembar-lembar buku yang saya baca. Sekarang saya mengulangi kebiasaan itu, dan kembali mendapatkan kenikmatan yang sama.

Kalau-kalau ada pembaca catatan ini yang mungkin ingin mulai membaca buku, dan bertanya-tanya bagaimana cara memulai kebiasaan itu, izinkan saya berbagi tip.

Tip ini sangat mendasar, jadi dapat digunakan oleh orang yang bahkan sama sekali belum pernah membaca buku. Pertama, temukan buku yang membuatmu tertarik. Buku apa saja, fiksi ataupun nonfiksi, tebal maupun tipis—bebas! Tapi usahakan kamu membeli buku itu, bukan meminjam, agar buku itu benar-benar milikmu, dan kamu bebas membacanya tanpa batasan waktu.

Setelah kamu memiliki buku, mulailah membaca isinya. Karena baru memulai, kamu tidak perlu berharap banyak. Cukup baca selembar atau dua lembar per hari. Tandai halaman buku yang kamu baca, agar kamu mudah meneruskan bacaanmu di lain waktu. Kalau bisa, tentukan waktu khusus untuk membaca—bisa pagi hari sebelum berangkat kerja, atau malam hari menjelang tidur. Tidak perlu banyak-banyak, cukup selembar atau dua lembar. Yang penting rutin.

Dengan terus membaca selembar atau dua lembar buku setiap hari, mungkin kamu bisa mengkhatamkan isi buku itu dalam waktu 1 sampai 3 bulanan. Jika kamu terus melakukannya setiap hari, kamu sedang membentuk kebiasaan. Mungkin sulit. Tapi membaca selembar atau dua lembar buku mestinya tidak sulit-sulit amat, karena hanya butuh waktu beberapa menit. Dan setelah kebiasaan itu akhirnya terbentuk, kamu akan merasa mudah melakukannya. 

Dari situ, kamu mungkin bisa menambah jumlah bacaanmu. Dari selembar menjadi dua lembar, lalu meningkat jadi tiga lembar, dan begitu seterusnya, sampai akhirnya kamu bisa membaca ratusan halaman buku dalam sekali duduk. Mungkin butuh waktu berbulan-bulan untuk mencapai hal itu, atau bahkan bertahun-tahun, tapi tidak apa-apa, namanya juga sedang membentuk kebiasaan. Tak perlu buru-buru, yang penting kamu menikmati yang kamu lakukan.

Dengan cara itulah dulu saya membentuk kebiasaan membaca buku, hingga akhirnya terbiasa. Dan sekarang, saya kembali membentuk ulang kebiasaan itu—membaca buku kertas, menghayati isinya, halaman demi halaman, dan tenggelam di dalamnya.

Sebuah buku, teh hangat, dan udud—bagi saya, itu saja sudah menyenangkan.

Kemerdekaan Hanya Milik Para Pemikir

Mau logout, tapi udud masih panjang.

Kemerdekaan Hanya Milik Para Pemikir

Banyak orang mengenal Nietzsche karena Thus Spoke Zarathustra, tapi banyak yang tidak tahu kalau buku inilah cikal bakalnya.

Sambil nunggu udud habis.

The Birth of Tragedy adalah karya awal Friedrich Nietzsche, dan di buku ini ia mengeksplorasi seni, khususnya drama Yunani kuno, dengan kehidupan, filsafat, dan pemahaman tentang eksistensi manusia. Eksplorasi itu menuntunnya untuk melahirkan perspektif Apollonian dan Dionysian.

Tapi aku tidak bermaksud ngoceh soal itu atau menulis sinopsis buku The Birth of Tragedy. Yang membuatku gatal ingin ngoceh soal buku itu adalah bahwa kita bisa menelusuri akar pikiran seseorang—khususnya pemikir-pemikir besar—melalui "napak tilas" karya-karyanya dari awal.

Friedrich Nietzsche adalah nihilisme, dan itu sangat tampak dalam karya-karyanya yang terkenal seperti Thus Spoke Zarathustra, Beyond Good and Evil, atau The Will to Power. Tapi bagaimana Nietzsche bisa sampai pada pemikiran itu? The Birth of Tragedy memberikan gambaran awalnya.

Ketika menulis The Birth of Tragedy, Nietzsche masih “culun”—meski culunnya dia tentu beda dengan culunnya kita. Sebagai pemikir pemula, Nietzsche masih "lugu" ketika menulis buku itu, dan kelak, seiring waktu, ia membangun, meruntuhkan, dan membangun kembali ide-idenya sendiri.

Tidak ada satu pun pemikir yang tiba-tiba sampai pada kesimpulan yang amat kuat—yang ia rela mati demi pemikirannya. Semua pemikir melewati tahap per tahap, tesis dan antitesis, dan itu bisa berlangsung bertahun-tahun tanpa henti, sampai kemudian tiba pada kesimpulan pamungkas.

Dalam perspektif filsafat, tidak ada kebenaran/keyakinan instan—yang serbainstan itu cuma “hiburan” untuk orang-orang yang otaknya setara trilobita, yang didoktrinkan pada mereka agar dapat dikibuli, dikendalikan, untuk kemudian dikuasai. 

Kemerdekaan hanya milik para pemikir.

And then... itulah kenapa ada pihak-pihak yang sangat khawatir kalau kita sampai berpikir, lalu berusaha mematikan pikiran kita dengan tumpukan doktrin.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 Oktober 2024.

Komentar untuk God Delusion

Buku ini sangat bagus. Dawkins menulis dengan amarah yang bercampur intelektualitas dan kejujuran, dengan kata-kata yang mampu mengobrak-abrik pikiran siapa pun yang membacanya. Sebagian orang akan tercerahkan setelah membaca buku ini, sebagian lain akan terlempar dalam gelap.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Januari 2025.

Mengubah Perspektif

Dulu ada orang sedang berolah raga, tiba-tiba jatuh, dan mati. Masyarakat menyebut "dia mati disantet". Banyak yang percaya, dan aku ikut percaya waktu itu. Bahwa dia mati disantet.

Bertahun kemudian, aku baru sadar bahwa orang yang mati tiba-tiba itu karena serangan jantung.

Dulu, dengan terbatasnya pengetahuan, aku mempercayai "orang mati tiba-tiba karena disantet" karena lebih mudah dicerna akal. Belakangan, aku menyadari, justru jauh lebih mudah [dan lebih logis] untuk mempercayai bahwa orang yang mati tiba-tiba itu karena serangan jantung.

Mengubah perspektif (cara pandang) kadang butuh waktu, dan itu bisa sangat lama, tergantung orang per orang. Sampai sekarang, aku yakin, masih banyak yang percaya bahwa orang yang dulu mati tiba-tiba itu karena memang disantet. Perspektif mereka tak pernah beranjak ke mana-mana.

Mungkin aku akan dicerca karena mengatakan ini. Jika aku ditanya, apakah percaya pada santet dan semacamnya, jawabanku, "Tidak!"

Untuk sampai pada jawaban [yang serupa keyakinan] itu, aku butuh waktu bertahun-tahun, proses yang tak sebentar, untuk kemudian sampai pada simpulan.

Dulu, di Indonesia ada dukun terkenal yang mengaku bisa menyantet siapa pun—kalian pasti tahu siapa yang kumaksud. Tapi dari tahun ke tahun, aku mengamati, dia tidak pernah membuktikan apa pun, selain ngoceh "bisa menyantet siapa pun". Popularitasnya mengalahkan kemampuannya.

Sebenarnya, aku tergoda melanjutkan ocehan ini sampai panjang lebar, tapi aku juga khawatir kalau ocehanku makin "tak karuan". Lagian ududku hampir habis.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 Agustus 2021.

Dimensi Kepercayaan

Menurut ramalan zodiak, Taurus bakal mendapat banyak rezeki di bulan Agustus mendatang. Kepada sesama Taurus, mari kita aminkan.

“Jadi, kamu percaya ramalan zodiak?”

Sure! 

“Bagaimana bisa?”

Well, penjelasannya panjang. Umurmu tidak akan cukup untuk mendengarkan penjelasannya. 

“Tolong jelaskan singkat saja, biar aku bisa mati dengan tenang!” 

*Nyulut udud dulu*

Dalam perspektifku sebagai bocah, setidaknya ada tiga dimensi kepercayaan. Pertama, percaya karena fakta. Ini bersifat ilmiah. Misalnya percaya bahwa api itu panas, es itu dingin, dan semacamnya. Ini kepercayaan yang mau tidak mau harus kita percaya, karena memang begitu adanya.

Kedua, percaya karena kita memilihnya. Ini jenis kepercayaan yang membuat kita senang, dan/atau optimis, tanpa menimbulkan efek destruksi atau semacamnya pada orang lain. Kepercayaan yang sifatnya pribadi, atau subjektif. Misalnya percaya ramalan zodiak tentang nasib baik.

Ramalan zodiak, misalnya, menyatakan bahwa Taurus akan mendapat rezeki besar di Agustus mendatang. Sebagai bocah Taurus, aku punya hak untuk memilih percaya atau tidak pada ramalan itu, dan aku memilih percaya. Kenapa? Karena memberi efek baik, tanpa merugikan orang lain.

Jika aku percaya bahwa Agustus mendatang akan mendapat rezeki besar—sebagaimana ramalan zodiak—apakah kalian dirugikan? Tidak! 

Aku percaya Agustus mendatang akan mendapat rezeki besar, dan kepercayaan itu membuatku senang, optimis, makin giat belajar dan bekerja, etcetera.

Ini adalah jenis kepercayaan yang kupilih sendiri, hak asasiku sebagai manusia—karena hidup, mestinya, adalah soal pilihan. Selama orang memilih sesuatu, entah terkait perspektif, jalan hidup, dll, dan pilihan itu tidak dipaksakan pada orang-orang lain, maka ia berhak memilihnya.

Ketiga, percaya karena terpaksa, atau percaya karena tidak ada pilihan lain selain memang harus percaya. Ini jenis kepercayaan yang biasanya muncul sebagai hasil doktrinasi. Kepercayaan dalam dimensi ini tidak butuh pembuktian/fakta empiris, dan kalian tentu sudah mengenalinya.

Ocehan ini, kalau kulanjutkan, masih panjang sekali, dan mungkin baru selesai bertepatan dengan munculnya Ya’juj-Ma’juj, tapi ududku hampir habis. 

So, mari kita tidur dengan tenang, dan sambut Agustus dengan hati senang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 31 Juli 2021.

Menyimpan Dendam

Suatu fakta yg hampir tak ada yg mempertanyakan atau media barat mau mengangkatnya, bahwa mendiang Queen Elizabeth II yg dikenal paling banyak lakukan kunjungan luar negeri, bahkan ke negara2 yg tampak bermusuhan dgn Inggris, namun Ratu tak pernah sekalipun mengunjungi Israel. —@Vendra_Deje


Faktanya, orang bisa menyimpan dendam sampai bertahun-tahun, dan melakukan pembalasan yang tak terbayangkan siapa pun.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Oktober 2019.

Harapan dan Kenyataan

Tadi malam:
Bocah 1: Besok pagi, olah raga bareng, yuk.
Bocah 2: Oke.

Pagi ini:
Bocah 2: *Nilpon* Jadi mau olah raga bareng?
Bocah 1: *Suara ngantuk* Uhm... dinginnya kok gini amat, ya? Kayaknya lebih enak tidur lagi aja.

Bah!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 20 Januari 2019.

Cinta Tak Terbalas

Cinta tak terbalas adalah cara alam semesta membawamu pada orang yang lebih baik.


*) Ditranskrip dari timeline @noffet, 23 Juli 2012.

Piye Kuwi?

Meributkan iklan di teve yang konon katanya merusak moral, tapi ternyata tidak punya teve. Meributkan RUU yang konon katanya merusak moral, tapi tidak membaca isi RUU-nya.

Lha piye kuwi?

*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Januari 2019.

Februari

Akhirnya Februari.

Ngajak Turu

Howone ngajak turu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Februari 2019.

Jumat, 30 Januari 2026

Terlalu Lempeng Sampai Nabrak

Omong-omong soal Greschinov, sekali lagi...

Sambil nunggu udud habis.

Dari dulu aku percaya, masalah Greschinov tuh “terlalu lempeng”. Dan karena terlalu lempeng, akibatnya bisa nabrak. Termasuk nabrak akal sehat.

Untuk kesekian kali, Greschinov bikin ribut di Twitter, dan akar masalahnya sama, seperti yang dulu-dulu. Dia menyampaikan sesuatu yang menurutnya benar, lalu ditolak dan dihujat beramai-ramai oleh banyak orang. 

Kenapa fenomena absurd seperti Greschinov bisa terjadi?

Seperti yang pernah aku ocehkan di sini, Greschinov sebenarnya belum tentu salah [meski juga belum tentu benar]. Intinya kan dia menyampaikan sesuatu, yang ternyata bertabrakan dengan akal waras orang-orang di Twitter. Lalu Greschinov ramai-ramai dihujat. 


Pertanyaannya, kenapa di dunia ini bisa muncul fenomena seperti Greschinov? Kenapa bisa ada orang yang punya pemikiran “sangat kacau”, hingga banyak orang gatal ingin menghujatnya? Greschinov juga harus tahu hal ini, karena dia akan terus menerus begini jika tidak sadar.

Dalam perspektifku, Greschinov itu mirip mas-mas (atau bapak-bapak) yang tinggal di kampung, dan kebetulan pintar. 

Mari kita akui, faktanya Greschinov memang pintar, setidaknya bisa berbahasa asing. Kalau kamu mas-mas di kampung dan bisa bahasa asing, kamu pintar!

Masalahnya adalah... mas-mas kampung ini—maksudku Greschinov—kemudian masuk ke komunitas besar, dalam hal ini Twitter, yang terkenal berisi orang-orang pintar, kritis, sekaligus brutal. 

Dan terjadilah fenomena ini; dianggap pintar di kampung, tapi tolol di Twitter.

“Pintar di kampung, tapi tolol di Twitter”—itulah sebenarnya yang terjadi, khususnya menyangkut Greschinov. 

Letakkan Greschinov—atau orang seperti dia—di kampung, dan dia akan terlihat pintar. Tapi bawa orang semacam itu ke Twitter, dan seketika dia akan tampak sangat tolol!

Jangankan orang seperti Greschinov, yang senyatanya memang pintar, ada orang-orang yang sebenarnya sangat tolol, tapi merasa dirinya pintar, berwawasan, bahkan merasa bijaksana. Dan orang ini tetap merasa begitu, karena “lingkungan intelektualnya” hanya sebatas kampungnya.

Kalian pasti tahu, lah, orang-orang semacam itu. Di kampung-kampung kita, biasanya ada tipe mas-mas atau bapak-bapak yang lingkup pikirannya sangat sempit, tapi merasa sangat pintar dan berwawasan, sampai berlagak sok pintar dan menganggap dirinya tak mungkin salah.

Mas-mas atau bapak-bapak di kampung itu “selamat”—dalam arti tidak sampai dihujat banyak orang—karena mereka hanya hidup dan berlagak sok pintar di kampungnya. 

Coba bawa mereka ke Twitter, suruh ngoceh di sini, dan seketika akan dihabisi banyak orang, karena ketololannya.

Itulah sebenarnya yang terjadi pada Greschinov, yaitu fenomena “pintar di kampung, tapi tolol di Twitter”. 

Greschinov, diakui atau tidak, pasti merasa dirinya pintar, bahkan mungkin benar. Masalahnya, pintar dan benar yang ia pikirkan, bisa jadi salah total bagi banyak orang.

Seperti ketika dia bikin surat ala-ala perjanjian pranikah, Greschinov pasti berpikir kalau semua yang dituangkannya adalah benar, tepat, dan adil. 

Dilihat dari mana? Dari sudut pandang mas-mas kampung! Tapi sudut pandang itu ternyata salah total saat diungkap di sini.

Jangan salah paham. Aku tidak bermaksud merendahkan mas-mas kampung—wong aku juga tinggal di kampung.

Yang kumaksud dengan analogi “mas-mas kampung” adalah perspektif sempit yang lahir dari pikiran sempit, karena lingkup wawasan dan paradigma yang sempit.



Ada banyak orang seperti Greschinov—orang-orang yang merasa pintar atau dianggap pintar di komunitas terbatas, tapi kelihatan tolol ketika masuk ke komunitas lebih luas. 

Apakah orang seperti Greschinov berbahaya? Sebenarnya, dia lebih berbahaya bagi dirinya sendiri.

Yang [kadang] berbahaya dari Greschinov itu kan cara berpikir-sempitnya yang bertabrakan dengan cara berpikir orang-orang [waras] secara luas. 

Dan karena orang-orang sadar bahwa dalam hal itu Greschinov “bermasalah”, maka yang paling menanggung akibatnya ya Greschinov sendiri.

Dalam contoh faktual, dia mencari pasangan, dan dia bikin surat perjanjian pranikah yang sungguh ngehe. 

Apakah ada perempuan waras yang tertarik jadi pasangannya? Kita tahu jawabannya. Karenanya, dalam hal ini, Greschinov sebenarnya lebih berbahaya bagi dirinya sendiri.

Dalam perspektif psikologi, orang membentuk pola, lalu terjebak dalam polanya sendiri. Itu terjadi pada semua orang, termasuk Greschinov, dan kita semua. 

Bedanya, pola yang dibuat—dan menjebak—Greschinov membuatnya berkali-kali tersandung masalah, entah sadar atau tidak.

Awkarin, misalnya, membentuk pola; dekat dengan cowok > jadian > putus > lalu dekat cowok lagi > jadian lagi > putus lagi > dan begitu seterusnya.

Begitu pun, aku juga membentuk pola; naksir cewek > tapi milih belajar > gak pacaran > naksir cewek lagi > milih belajar lagi > dst.

“KENAPA CONTOHNYA AWKARIN SAMA KAMU?” 

Ya suka-suka, laaaah. Wong ini ocehanku, kok! Kalau gak suka, silakan ngoceh sendiri. 

Dah, lah. Ududku habis.


*) Dikutip dari timeline @noffret, 1 Oktober 2022.

Perspektif dan Paradigma

Cangkang telur ayam adalah perspektif.

Ada kisah filosofis tentang anak ayam yang masih ada dalam cangkang telur (belum menetas), dan anak ayam yang sudah menetas (keluar dari cangkang). Mereka menghadapi dunia yang berbeda, dengan cakrawala pemikiran yang jauh berbeda.

Anak ayam yang masih dalam cangkang—belum menetas—berpikir bahwa dunianya begitu kecil, dan dia begitu besar. Dia tidak melihat apa-apa, karena masih terkungkung dalam cangkang telur. Dia hanya melihat apa yang harus dilihatnya; kungkungan dinding cangkang di sekelilingnya.

Sementara anak ayam yang telah menetas—keluar dari cangkang telur—menyadari bahwa dunia begitu besar, dan dia begitu kecil. Dia melihat banyak hal yang semula tidak dilihatnya. Dia menatap luas bumi, dan perspektifnya tentang hidup, juga tentang dirinya sendiri, berubah.

Kalau anak ayam yang masih ada dalam cangkang bercakap-cakap dengan anak ayam yang telah keluar dari cangkang, percakapan mereka tidak akan nyambung. Karena yang satu merasa dirinya besar (dalam cangkang), dan satunya lagi menyadari bahwa dirinya kecil (telah menetas jadi ayam).

Jika anak ayam yang telah keluar dari cangkang memberi tahu betapa luasnya dunia, bahwa kehidupan ini begitu beragam, bahwa hidup tidak sebatas dalam cangkang, anak ayam yang masih dalam cangkang tidak akan paham, bahkan tidak percaya. Karena dia masih terkurung cangkangnya.

Cangkang adalah perspektif, paradigma, cara kita melihat diri sendiri, dunia, dan kehidupan yang kita jalani. Tidak semua orang nyaman hidup dalam cangkang terus menerus, dan mereka memilih untuk keluar dari cangkang yang selama ini membelenggu. Karena hidup tak sebatas cangkang.

"Kamu harus kawin di usia 20-an. Biar nanti kalau punya anak, usiamu belum terlalu tua." Itu contoh paradigma orang yang masih terkungkung cangkang.

Jawabannya sederhana saja, "Lha yang berencana punya anak juga siapa?"

Pemikiran orang lain belum tentu sama dengan pemikiranmu.

Kalau kita menganggap hidup adalah tumbuh dewasa, lalu kawin dan beranak-pinak, kemudian mati... ya silakan jalani.

Tapi jangan pernah berpikir dan meyakini bahwa semua orang harus begitu, atau ingin begitu, atau menganggap hidup pasti seperti itu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 27 Juni 2022.

Bisnis Angin Sorga

IG edukasi.muslimah memberi "edukasi" pada (calon) suami istri bahwa uang belanja Rp20 ribu per hari itu cukup. 

Apa benar cukup? Ya mungkin saja, karena mereka menikah dengan motivasi agama, bukan ekonomi. Karena menikah membuatmu bahagia dan lancar rezeki.

Tapi yo mbuh kabeh.

Akun-akun medsos yang doyan mengompori orang cepat kawin itu seperti punya SOP yang seragam: Yang penting kompori orang-orang cepat kawin. Beri saja bualan-bualan angin sorga, agar cepat kawin, meski tak masuk akal sekalipun. Soal mereka nanti nasibnya keblangsak, yo modaro dewe.

Sekarang kalian paham bisnis apa yang paling mudah dan menguntungkan di zaman sulit seperti sekarang, yaitu bisnis angin sorga. Pasarnya jelas (orang-orang yang ngebet kawin), dan modalnya cuma barang gaib (doktrin dan bualan angin sorga). Selangkangan memang selalu laku dijual.

Kalau-kalau ada yang gatal ingin nyambar sambil ngemeng teori yang ndakik-ndakik, silakan baca ini dulu: Teori dan Ayat Suci » https://bit.ly/2W90yWC 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 23 Januari 2019.

Memilih Bahagia

Mengapa Ira Koesno makin dewasa makin cantik?

Karena dia memilih jalan hidup yang benar-benar membuatnya bahagia. Bukan memenuhi tuntutan masyarakat demi bisa pura-pura bahagia.

Benar-benar bahagia membuatmu makin cantik. Keblangsak tapi pura-pura bahagia, membuatmu cepat tua.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 20 Januari 2019.

Itu Piye?

Kalau kuperhatikan, teman-temanku yang kristiani atau non-muslim lain tidak pernah koar-koar "menikah akan membuatmu bahagia dan melancarkan rezeki" atau ocehan senada lainnya. Tapi pernikahan mereka justru terlihat bahagia, seperti tanpa masalah, dan damai sentosa. Itu piye?

Sementara teman-temanku yang muslim sangat fasih mengatakan "menikah akan melancarkan rezeki" dan lain-lain, sementara pernikahan mereka kacau, rumah tangga berantakan, ke mana-mana pusing mencari utang. Tentu saja sambil mengatakan, "Menikah akan melancarkan rezeki." Itu piye?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 Maret 2019.

Kisah Siwon

Beberapa hari ini, dunia ramai membicarakan Seungri Bigbang yang mengejutkan semua orang. Berikut ini adalah kisah Siwon Super Junior yang mungkin juga masih jarang diketahui orang » http://bit.ly/2amt57u 

*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Maret 2019.

Ikan Koi

Oh... ikan koi.

Tidak Normal

Ingin ngetwit kayak orang-orang normal, tapi bingung. Mungkin karena aku memang tidak normal.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 11 Maret 2019.

Nyanyi Pakai Tajwid

Si Iwan ini kalau nyanyi fasiiiiih banget. Dia pasti menguasai tajwid, hingga bisa membedakan mana idghom bighunah dan idghom bilaghunah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 Februari 2012.

Lagi

Kecurigaanku terbukti. Lagi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 25 Januari 2019.

Banjir dan Lapar

Kalau lagi banjir, nyari warung makan buka sulitnya luar biasa. Padahal banjir bikin perut mudah lapar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 27 Januari 2019.

Menghangat di Dada

Selalu ada yang menghangat di dada setiap kali menemukan kata Mirota.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 27 Januari 2012.

Senin, 19 Januari 2026

Tak Berharap

Kalau beneran besok Twitter akan diblokir, menurutmu gimana?

Ini jawabanku pribadi, ya: Bodo amat! 

Jika benar besok Twitter akan diblokir, berarti ini tweet terakhirku. Wow.

Jadi kepikiran. Omong-omong soal bodo amat...

Sambil nunggu udud habis.

Pelajaran hidup yang kupelajari, dan masih terus kupelajari, adalah melepaskan diri dari segala ketergantungan. Pada apa pun—apalagi sekadar Twitter. Jadi, kalau Twitter mau diblokir atau tidak, itu sama sekali tidak ada pengaruhnya bagiku. Jadi, seperti kubilang tadi, bodo amat!

Di Twitter, aku ngoceh suka-suka, di waktu luang sambil melepas stres, hingga udud habis. Gak ada pentingnya sama sekali. Ada yang mau baca, ya monggo. Gak ada yang baca, ya ora opo-opo.

Ini menurutku pribadi, ya. Jadi kalau kamu punya pandangan lain soal Twitter, ya silakan.

Jangankan cuma Twitter, wong kepada sesama manusia saja aku berusaha melepaskan diri dari ketergantungan, berusaha tidak memiliki harapan apa pun kepada mereka. Mungkin terdengar filosofis, tapi itu membuat hidupku lebih tenang, tenteram, karena jauh dari harapan macam-macam.

Setiap kali mengajak seseorang untuk mengerjakan sesuatu, aku berpikir santai, "Kalau kamu mau, ayo kerjakan bareng. Kalau kamu tidak mau, ya akan kukerjakan sendiri." Simpel.

Dengan pola pikir sesederhana itu saja, hidupku terasa berubah lebih baik dan lebih menenteramkan.

Ada pesan yang pernah kubaca di DM, "Kenapa seseorang yang sangat mudah untuk terkenal tapi memilih untuk tidak dikenal? Kenapa seseorang yang memiliki kesempatan untuk bertemu orang-orang terkenal, tapi memilih tidak melakukannya?"

Jawabannya sederhana: Aku tidak berharap.

Mungkin aku mengagumi seseorang karena kiprah atau karya-karyanya. Tapi aku sama sekali tak berharap apa pun, seperti ingin ketemu, apalagi lebih dari itu. [Meski tidak menutup kemungkinan kami akan bertemu, entah dengan alasan apa pun. Tapi intinya aku tidak ingin berharap].

Jangankan hal-hal semacam itu, wong umpama aku menyatakan cinta pada seorang wanita pun, aku tidak akan berharap. Jika dia menerima, dan mau jadi pacarku, ya syukur. Jika dia menolak, ya tidak apa-apa. Aku akan melanjutkan hidupku seperti biasa, tanpa terluka, tanpa patah hati.

Dan kalau untuk urusan cinta saja aku tidak berharap [harus diterima], apalagi untuk hal-hal lain yang lebih sepele?

Kalau aku menawarimu sesuatu, bisa dibilang tidak ada pengaruhnya bagiku, terlepas kamu menerima atau menolak. Itu sesuatu yang sangat... sangat sepele.

Intinya, aku tidak punya harapan apa pun kepadamu, atau pada siapa pun. Mungkin ini terdengar kasar, tapi izinkan aku mengatakannya. Aku tidak berharap jadi temanmu, rekan kerjamu, pacarmu, atau apa pun. Jika terjadi, itu di luar harapanku. Mungkin kita bisa menyebutnya takdir.

Keinginan (memiliki harapan pada orang lain) adalah sumber penderitaan, dan aku percaya.

"Aku telah mengalami segala kesusahan hidup," kata Ali bin Abi Thalib, "dan yang paling menyusahkan adalah berharap pada manusia."

Jika Ali bin Abi Thalib yang berbicara, aku mendengarkannya.


*) Dikutip dari timeline @noffret, 19 Juli 2022.

Nggak Enakan dan Nggak Nyaman

Pernah nggak kalian follow akun medsos hanya krn perasaan nggak enakan? —@zoelfick

Kalau sekadar “nggak enakan”, menurutku bukan masalah, karena setidaknya kita yang merasakan, dan orang lain gak tahu. Yang bermasalah tuh gini...

Lanjut di bawah.

Aku pernah follow seseorang, karena dia PEMBACA BUKU. Jadi, suatu waktu, ada tweet/post seorang wanita muncul di TL, dan isinya tentang buku. Waktu aku lihat profilnya, dia juga menjadikan buku sebagai identitas. Jadi, aku tertarik mem-follow akunnya, karena tertarik pada buku.

Beberapa hari kemudian, aku mendapati ternyata aku tidak lagi mem-follow akun wanita PEMBACA BUKU tadi. Jadi rupanya, dia diam-diam “melepaskan” akunku dari tab followed-nya. Waktu itu aku hanya berpikir, “Oh, mungkin dia nggak nyaman.” Sudah, bagiku tidak ada masalah.

Tapi lalu aku jadi mikir, jangan-jangan ada akun lain yang juga sama seperti wanita PEMBACA BUKU tadi. Jangan-jangan ada akun yang sebenarnya tidak nyaman aku follow, tapi juga tidak nyaman kalau “melepaskan” akunku dari tab followed-nya? Overthinking itu bikin aku tidak nyaman.

Karena latar belakang pikiran itu, aku lalu mengingat-ingat akun siapa saja yang aku follow berdekatan dengan saat mem-follow akun wanita PEMBACA BUKU tadi. Lalu aku unfollow akun-akun mereka. Karena aku khawatir kalau-kalau mereka tidak nyaman seperti si wanita PEMBACA BUKU.

Sejak itu, aku jadi sangat hati-hati kalau mau follow akun random yang kebetulan melintas di TL-ku. Aku mem-follow akun semata-mata karena tertarik pada isi post-nya, tapi ternyata juga bisa menimbulkan ketidaknyamanan pada akun yang aku follow. Itu juga membuatku tidak nyaman.

So, mumpung ngoceh soal ini. Kalau-kalau kamu kebetulan termasuk akun yang ku-follow, dan kamu tidak nyaman, tolong lepaskan akunku dari tab followed-mu, agar kamu tetap nyaman di sini. Akan lebih baik jika blokir sekalian, agar aku tidak bisa lagi melihat tweet/post dari akunmu.

Postscript:

Setelah Pemilu Pilpres kemarin usai, aku sengaja mem-follow banyak akun, lintas kecenderungan, sampai pihak-pihak yang saling berseberangan (pro dan kontra pemerintah). Tujuannya agar aku bisa mendengar semua pihak secara langsung, dan tidak terjebak dalam bubble.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Februari 2024.

Gak Nyaman

Rasanya sungguh gak nyaman ketika seseorang mengira kita naksir, lalu dia khawatir kita akan pedekate, padahal kita sama sekali gak punya perasaan apa pun kepadanya. Rasanya seperti dituduh melakukan kejahatan, padahal kita punya rencana saja tidak.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 31 Maret 2019.

Atas Nama Agama

Ada teman tanya, “Israel dan Palestina perang terus itu apa tidak capek?” 

Tentu saja tidak capek, karena mereka berpikir melakukannya atas nama agama. Mungkin mirip kita yang rajin ibadah. Saban hari melakukan hal sama, ya tidak capek dan tidak bosan. Wong nyari pahala.

“Tapi mau atas nama agama pun, perang tetap perang, dan itu menimbulkan korban serta berbagai kerusakan serta kerugian. Mestinya agama tidak digunakan untuk saling serang antarmanusia, tidak dijadikan sebagai...” 

Tolong katakan itu pada mereka.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 23 Februari 2019.

Makhluk Paling Tenteram

Makhluk paling tenteram di dunia ini mungkin ikan sapu-sapu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 Januari 2012.

Can't Stop Now

The Hitman's Bodyguard adalah film aksi-komedi yang benar-benar gila. Bolak-balik nonton, tetap cekikikan sendiri. Soundtrack-nya juga cakep. Ini salah satunya.

In my life there's been heartache and pain
I don't know if I can face it again
Can't stop now, I've traveled so far
To change this lonely life

—Foreigner


‏*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Januari 2019.

Galau Tingkat Thanos

Galau tingkat Thanos: Meruntuhkan peradaban sekarang... atau besok.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Maret 2019.

Kucing Bertengkar

Kucing-kucing di depan rumahku kalau bertengkar pasti menimbulkan keributan. Mungkin pertengkaran mereka akan lebih enak didengar, kalau saja mereka menggunakan kosakata yang baik dan benar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 Maret 2019.

Liburan Tahun Baru

Apa liburan tahun baru belum selesai sampai sekarang ya? Kok ada orang yang belum balas email yang dikirim dari kemarin?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Januari 2012.

Suka Acar

“Apakah kamu suka acar?”

“Kalau untuk martabak atau nasi goreng, ya, aku suka acar.”

Tertolong Si Dul

Syukur banget!

Jumat, 09 Januari 2026

Resep Bahagia

Saya kenal orang yang tampaknya selalu bahagia. Hampir tidak pernah saya melihatnya sedih. Jadi, berharap bisa seperti dia, saya pun bertanya, bagaimana caranya agar selalu bahagia. Dia tidak keberatan berbagi resep kebahagiaannya, dan inilah yang dikatakannya. 

“Pertama,” dia berkata, “selalu temukan sesuatu untuk dilakukan, dikerjakan, agar waktumu tidak terbuang sia-sia. Kedua, hindari orang-orang beracun yang kesibukannya ngerusuhi kehidupan orang lain. Ketiga, nikmati hal-hal yang kamu sukai—misalnya nikmati udud kalau memang suka udud.”

Saya memastikan, “Sudah, cuma begitu?” 

Dia mengangguk, “Ya, cuma begitu.” 

Setelah terdiam cukup lama, saya bertanya, “Bagaimana bisa resep-resep itu membuatmu bahagia? Maksudku, bagaimana kamu bisa bahagia hanya dengan menjalankan resep-resep tadi?” 

Dia menjawab serius, “Kamu bertanya apa resep kebahagiaanku, dan yang kukatakan tadi itu resepku. Kalau ternyata resep-resep itu tidak berlaku atau tidak berfungsi bagimu, ya tidak apa-apa, karena setiap orang punya cara sendiri untuk bahagia. Mungkin caramu bahagia berbeda denganku.”

Sepertinya dia benar. Setiap orang punya cara sendiri untuk bahagia, dan “mungkin caramu bahagia berbeda denganku.” 

Meski mungkin terdengar sepele, kebenaran ini jarang kita sadari. Buktinya, ada banyak dari kita yang suka memaksakan “cara bahagianya” ke orang lain.

Ada orang suka mancing ikan di empang, misalnya, dan dia bahagia melakukannya. Tidak masalah. Yang masalah adalah memaksa semua orang harus suka memancing di empang seperti dirinya, dengan alasan agar bahagia. Bahkan baru membayangkannya saja, kita tahu itu tolol.

Menyuruh-nyuruh orang lain cepat menikah, dengan alasan agar bahagia, itu sama tololnya menyuruh orang mancing ikan di empang dengan alasan yang sama. Setiap orang punya cara sendiri untuk bahagia. Yang bahagia menurut kita belum tentu sama pula menurut orang lain. 

Mengharuskan orang lain punya anak, dengan alasan agar bahagia, itu juga lucu, seolah syarat bahagia hanyalah punya anak. Ada banyak pasangan yang menjalani kehidupan tanpa anak-anak, dan mereka bahagia. Dan kita tidak punya hak merusak/merusuhi kebahagiaan mereka.

Ada orang-orang yang suka kumpul dengan banyak orang, karena dengan cara itu dia bahagia. Tidak masalah. Yang masalah adalah jika kita memaksakan cara bahagia kita pada orang lain, dan menstigma (mencap negatif) orang-orang yang kita anggap berbeda dengan diri kita.

Ada banyak orang yang senang menghadiri pesta atau acara-acara sosial, berkumpul dengan banyak orang, dan merasakan kebahagiaan. Tapi marilah kita menyadari, tidak semua orang pasti begitu! Ada orang-orang yang justru bahagia saat sendirian, atau hanya dengan satu dua orang.

Kenyataannya memang begitu, kan? Manusia adalah makhluk unik, dengan latar belakang berbeda, dengan pola pikir berbeda, juga dengan kepribadian yang berbeda. Kita mungkin bisa menduplikasi seseorang hingga benar-benar serupa dengannya, tetapi—bagaimana pun—kita bukan dia. 

Jalani hidup dan kebahagiaanmu, dan biarkan orang-orang lain menjalani hidup serta kebahagian mereka sendiri. Kamu bukan pusat alam semesta, dan kamu bukan satu-satunya orang yang punya resep bahagia.

Tak Pernah Bisa

Memang, kita tak pernah bisa memaksakan sepatu kita ke kaki orang lain. Selain ukurannya yang mungkin beda, mereknya pun belum tentu cocok.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 24 Maret 2012.

Absurditas

Satu kepakan sayap kupu-kupu di New Delhi bisa menciptakan badai di New York. Absurd, tapi aku percaya, karena penjelasannya logis.

Kita lebih bisa menerima absurditas yang bisa dijelaskan dengan masuk akal, daripada penjelasan yang absurd dan tak bisa diterima akal.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 Januari 2012.

Contoh Sederhana

Sellha punya kemampuan dan kesempatan menjadi model, tapi memilih untuk menjadi pekerja PPSU (pasukan oranye), padahal ada banyak perempuan lain yang bermimpi jadi model.

Itu contoh sederhana "hidup adalah soal pilihan". Yang baik bagimu, belum tentu baik pula bagi orang lain.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Januari 2019.

Bukan karena Tolol

Dalam air yang perlahan memanas dan mendidih, katak terebus hidup-hidup hingga matang. Bukan karena tolol, tapi karena terlalu percaya diri.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Januari 2012.

Delusi

Delusi adalah menganggap bahkan meyakini dunia berutang kepadamu, padahal dunia sama sekali tidak mengenalmu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Januari 2012.

Terhapus dan Menjelang

Tempat kita memijakkan kaki sekarang bukan hanya batas depan dan belakang, kenangan dan harapan, tapi juga yang terhapus dan akan menjelang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 Januari 2012.

Terbuat dari Kaca

Manusia, konon, diciptakan dari tanah liat. Tapi hatinya mungkin terbuat dari kaca.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 Januari 2012.

Tak Ada Badai dalam Hening

Tak pernah ada badai dalam hening. Itu yang membuatku jatuh cinta kepadanya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 27 Maret 2012.

Runtuh

Subuh. Dan malam pun runtuh.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 Maret 2012.

Apa?

APA...??? SUDAH TANGGAL 4 JANUARI...??? MUSTAHIL...!!!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Januari 2012.

 
;